Author : Jung Yerin (Moza D.A.)
Title : Cherry Blossom Love
Chapter : 4
Genre : Friendship, Familyship, Romantic
Rating : Remaja
Main Cast:
-Seo Joo Hyun as Andreane Park
-Wu Yi Fan as Wu Yi Fan (Kris)
-Choi Minho as Choi Minho
STORY
PART 4
Andreane duduk sendirian di sebuah
meja. Dia sengaja memilih meja yang berada di dekat jendela kaca. Karena meja
yang di tempatinya saat ini menghadap ke taman belakang, dan taman itu dipenuhi
oleh pohon sakura. Aaakkhhh… indah sekali. Andreane menghirup nafas dalam-dalam
dan menghembuskannya. Saat ini, entah kenapa dia merasa sangat senang dan lebih
bersemangat dari biasanya. Andreane sangat menikmati pemandangan di depannya,
bahkan suara dentingan bel di caffe itu tak ia hiraukan sama sekali. Dia
terlalu larut pada keindahan sakura-sakura di depannya itu.
Dentingan bel yang sengaja
diletakkan di atas pintu caffe itu berbunyi lagi. Dan lagi-lagi Andrea tak
menghiraukannya.
“Saya pesan Torabicca coffe..”
“Baik, silakan tunggu sebentar..”
orang yang baru datang itu, duduk di dekat Andrea. Jadi, Andrea dapat mendengar
suara orang itu dengan jelas. Euuung, sedikit mengganggu konsentrasinya. Orang
itu mengatakan pesanannya dengan suara yang rendah, tapi nyaman di dengar.
Andrea jadi penasaran dengan orang itu. Dia tolehkan kepalanya untuk melihat
bagaimanakah rupa pemilik suara itu.
“Kriiissss!!!!!” Andrea sedikit
menjerit mengucapkan itu saking kagetnya. Sehingga pelanggan lain melihat ke
arahnya –termasuk Kris.
“Ooohhh… Andrea. Apa yang kau
lakukan di sini.” Kris bertanya pada Andrea, lagi-lagi dengan suara rendahnya.
Yaaa… itu karena saat ini dia harus menjaga ketenangan.
Kris berdiri di samping Andrea.
“Kau sudah lama di sini? Apa kau
sendirian?” tanya Kris. Dilihatnya Kris dari atas hingga bawah. Dia terlihat
berbeda dari sebelumnya –dari awal mereka bertemu hingga terakhir mereka
bertemu. Rambutnya.. oh! Sepertinya Kris merapikan rambutnya kali ini, tapi
rambut sebelah kirinya sudah sedikit berantakan. Kemeja putih yang melekat pada
tubuhnya –dengan satu kancing teratas yang terbuka, dan dasi biru yang
menghiasi lehernya –yang sudah sedikit melonggar. Tak lupa celana panjang hitam
dan sepatu kantor seperti milik oppanya. Dan satu lagi, jas hitam yang ia
tenteng dengan tangan kirinya. Hhhmm.. seperti inikah dia saat bekerja.
“Ne.. aku di sini sudah cukup
lama. Hhhmm.. aku juga sendirian.”
“Kalau begitu bolehkah aku
menemanimu.”
“Tentu..” Andrea melempar senyum
pada Kris. Kris pun membalasnya dan menarik kursi di samping Andrea kemudian
mendudukinya.
“Apa yang kau lakukan di sini?”
tanya Kris memulai pembicaraan seperti biasa –menggunakan suara rendahnya.
“Uhhhmm.. Aku selalu menyempatkan
datang ke sini sepulang dari kampus. Hanya ingin bersantai saja. Dan kau,
kenapa kau ke sini?” ucapnya sambil melirik pakaian yang Kris pakai.
“Ooohhh.. aku baru saja pulang
dari kantor. Dan kebetulan aku melihat ada kedai kopi di sini, jadi aku berniat
ingin mampir dulu.” ucap Kris.
“Uuuhm.. I see..” ucap Andrea,
tapi dalam hati ia juga berkata bahwa Kris tak terlihat buruk juga jika seperti
ini. Eh eh eh.. apa yang dipikirkannya?! Bagaimana bisa dia memuji Kris?!
Aaarrggghhh… buru-buru Andrea melempar pandangannya ke arah lain.
“Ini pesanan anda Tuan..” untung
pelayan segera tiba.
“Ne.. gamsahamnida..” Tapi sekali
lagi Andrea melirik Kris, dan dilihatnya pemuda itu sedang meneguk kopinya.
Aaaarrrgghhh.. Ada apa ini? Kenapa Kris terlihat… euuung… molla.. Andrea
cepat-cepat mengalihkan pandangannya dari Kris.
“Kau selesai bekerja pukul 8?
Waahhh.. kau jadi memiliki waktu lebih banyak untuk bersantai.”
“Ne.. tapi sebenarnya aku pulang
pukul 7. Dan meski aku pulang kerja lebih awal, tapi aku juga harus berangkat
kerja lebih awal.”
“Ooohhh.. begitu.. Apa kau sangat
sibuk? Sampai-sampai kau pulang terlambat..”
“Sebenarnya tidak. Hanya saja… aku
perlu penyesuaian. Lingkungan di Korea, berbeda dengan di China. Begitu pula di
kantor. Tapi beruntung, Korea memiliki pegawai yang ramah..”
“Hahahaha.. yeee… itu karena kau
itu anak bosnya..”
“Haha.. mungkin.. Dan mungkin bila
aku bukan anak ayahku, mereka juga tidak akan bertindak seramah tadi..”
“Hahahaha… yeee…”
“Uhhm, Andrea.. Apa ini tempat
favorite mu?” tanya Kris sambil meletakkan kembali cangkirnya.
“Uhm.. Ne.. Ini tempat favorite
ku. Makanya aku selalu menyempatkan datang ke sini.” Jawab Andrea tanpa menoleh
ke arah Kris.
“Apa yang sedang kau lihat?” Kris
yang merasa dari tadi Andrea mengalihkan pandangannya lurus ke depan, akhirnya
penasaran juga.
“Itu..” Andrea menunjuk sesuatu di
depannya dengan dagunya.
“Ada apa dengan taman di luar
sana?” Kris masih belum memahami maksud Andrea.
“Taman di luar sana dipenuhi
sakura.” Jelas Andrea.
“Jadi itu yang namanya sakura.
Kalau begitu, aku sudah pernah melihat sebelumnya, hanya saja saat itu aku
belum tau kalau itu adalah sakura. Karena saat itu bunganya belum muncul..”
ucap Kris.
“Ne.. sayang. Saat ini bunganya
juga belum muncul,” kata Andrea.
“Hhhmm.. ne.. aku juga ingin
melihatnya,” mereka memandang sakura-sakura yang ada di depannya.
“Jika di China, aku memang tidak
dapat melihat sakura. Sulit untuk mencarinya, karena memang tidak ada,” kata
Andrea.
“Yeee… Di sana memang tak ada
sakura. Oya ngomong-ngomong, kau juga sering ke China? Kata Chanyeol, ibu
kalian juga orang China..” tanya Kris
“Ne.. dulu ketika aku masih SD dan
SMP, setiap tahun kami akan merayakan natal di China. Dan ketika Chanyeol oppa
bersekolah di China, kami juga sering menengoknya setiap tahun saat natal.
Tapi, sekarang Chanyeol oppa disibukkan perkerjaannya. Sama seperti saat aku di
SMA, Appa-ku dan Chanyeol oppa sibuk dengan pekerjaannya, karena Appa membuka
cabang lagi di Singapura. Jadi… kami jarang ke China,”
“Neee.. setiap natal kedua,
Chanyeol akan berkunjung ke rumah kakek-neneknya.. Kami jadi tak bisa merayakan
natal bersama Chanyeol.”
“Lalu, kenapa tak merayakannya
pada hari natal pertama?” tanya Andrea.
“Hari natal pertama, aku, Tao,
Minho dan Siwon hyung merayakan dengan keluarga masing-masing.”
“Ohhh… ne.. Kalian tentunya juga
punya keluarga sendiri. Wkwkwkwkwk..” mereka berdua tertawa, namun tak begitu
keras. Takut jika menganggu ketenangan pelanggan lain.
“Yeee… Eeeeuuhhhmmm.. Jadi Andrea,
kau suka sakura?”
“Ne.. Sangat suka..”
“Waeee?
“Aku tidak tau kapan mulainya,
hhmm.. ne.. aku tidak tau kapan aku mulai menyukai sakura, tapi setiap kali aku
melihat sakura, hatiku menjadi tenang. Setiap kali aku sedang stress karena
sesuatu, tapi jika sudah melihat sakura, meski tidak dapat menghilangkannya,
setidaknya stressku jadi sedikit berkurang.”
“Waawww.. Jadi sakura seperti obat
bagimu?”
“Uhhm, kurang lebih begitu.. Dan
kau.. Apa yang akan kau lakukan jika sedang stress?”
“Aku.. Uhhhmm.. Aku adalah nappeun
namja. Aku akan pergi minum jika sedang stress..” Kris tersenyum miris.
“Ooo.. begitukah? Tapi.. saranku,
lebih baik kau mengurangi porsi minummu. Itu tak baik untuk kesehatanmu..
Memangnya.. kau dapat menghabiskan berapa botol soju?”
“Aku dapat menghabiskan 3 botol
soju.. Dan aku juga sudah mencoba untuk tidak minum saat stress, tapi itu
sulit.. Tapi jika aku sedang tidak stress, aku juga tidak minum. Dan belakangan
ini, aku juga sudah tidak minum..” cerita Kris pada Andrea.
“Neee.. Arayooo… Berkat diriku?”
Ooopsss, Andrea keceplosan.
“Euuung.. itu.. Hehe.. Ne.. gomawo
Andrea..” Kris salah tingkah, begitu juga Andrea.
----------
Kris
dan Andrea berjalan di trotoar sambil sesekali bercanda. Kadang-kadang Andrea
akan menjerit, jika ada seekor katak melompat di dekatnya. Dan kemudian tawa
mereka akan menghiasi. Mereka berjalan bersama dari halte menuju rumah Andrea. Yaaa..
Kris tidak mempunyai mobil di Korea, karena dia memang tidak suka. Ayahnya
sudah pernah berniat memberinya mobil, selama Kris membantu pekerjaannya di
Korea. Tapi Kris tak mau. Dia lebih memilih menggunakan jasa bus umum untuk
bepergian. Dan tadi saat Andrea sedang menelpon Chanyeol untuk menjemputnya,
sepertinya Chanyeol sedang ada janji dengan orang lain. Dan Andrea pun berniat
pulang dengan bus, jadi Kris berniat untuk mengantarnya. Awalnya Andrea
menolak, tapi akhirnya dia mau juga. Tak baik bukan jika seorang wanita harus
berjalan sendirian dari halte ke rumahnya malam-malam begini. Apalagi ini sudah
pukul 10 malam. Banyak sekali sleepwalker berkeliaran.
Mereka berjalan bersama, layaknya
sepasang kekasih. Kris pun memakaikan jasnya ke Andrea. Karena pakaian yang
Andrea gunakan lumayan tipis saat ini. Dan udara malam ini lumayan dingin,
karena sudah memasuki musim gugur.
Setelah mereka berdua sampai di
pintu gerbang rumah Andrea, mereka berdiri saling berhadapan.
“Uhhhm.. gomawo Kris.. Kau sudah
mengantarku..” ucap Andrea sambil melempar senyum ke arah Kris.
“Neee.. ceonma..” jawab Kris dan
membalas senyum Andrea.
“Kau tidak mampir dulu?” tawar
Andrea.
“Uhm.. gomawo, tidak usah. Aku
harus segera pulang..” tolak Kris dengan lembut.
“Oohh, baiklah..” Andrea melepas
jas milik Kris yang tadi ia gunakan.
“Uhm.. yogi.. jeongmal gomawo..”
ucap Andrea sambil mengulurkan jas milik Kris.
“Neee… Euuung, masuklah segera..”
Kris menyuruh Andrea segera masuk ke rumahnya.
“Ani.. Kau pulanglah dulu. Baru
aku akan masuk.”
“Uhhmm.. Baiklah..” diacaknya
rambut Andrea lembut.
“Annyeong..” Kris melempar
senyumnya lagi pada Andrea, sebelum berbalik dan berjalan meninggalkannya.
Andrea selalu tersenyum melihat punggung Kris yang kian menjauh. Kris berjalan
semakin jauh dari Andrea, namun sebelum Kris menghilang di ujung jalan, Kris
membalikkan tubuhnya lagi. Dia melambaikan tangannya pada Andrea, dan Andrea
pun membalasnya, dilambaikannya pula tangannya pada Kris. Meski gelap dan hanya
dibantu dengan cahaya lampu, Andrea dapat melihat senyum Kris dengan jelas.
Hingga akhirnya Kris menghilang di ujung jalan. Brulah Andrea masuk ke dalam
rumahnya.
----------
Andrea baru saja selesai mandi.
Dan dia pun berjalan menuju ke meja di samping tempat tidurnya. Diambilnya
ponsel dengan case berwarna putih miliknya, dan mulai mengeceknya.
Ada sebuah pesan masuk.
Aku sudah sampai di rumah dengan selamat..
Uhhhmm.. ya sudah.. Jaljayo.. ^^
Yeee.. aku juga sudah mau tidur. Kau juga
jangan tidur terlalu larut.. Night.. :)
Setelah Andrea mengirim pesan tadi
pada Kris, tak ada balasan apapun dari Kris. Mungkin dia sudah benar-benar
lelah. Yaaa.. gwenchana..
Bling.. bling.. bling..
Tapi lagi-lagi ponsel Andrea
berbunyi. Tanda bahwa ada satu pesan masuk.
From: Minho. Ternyata dari dia.
Andrea, apakah besok kau ada waktu?
Oh, Minho oppa.. Uhhhmm.. tentu. Memangnya ada
apa?
Besok, sepulang dari kampus. Apa kau mau
pergi denganku?
Ah, tentu.. ;)
Kalau begitu, sampai jumpa besok ;)
Ne.. ^^
Andrea pun meletakkan ponselnya
kembali di atas meja. Dia berjalan menuju saklar dan mematikan lampu di kamarnya.
Setelah itu dibaringkannya tubuh kurusnya, dan dirapikannya selimutnya.
Sekarang tinggal menutup matanya… Aaakkkhhhh… kenapa terasa susah.. Kelopak
matanya sudah mengatup, tapi pikirannya masih belum istirahat. Aaakkkhhhh… ada
apa ini.
“Aaaakkhhh… kenapa aku tidak bisa
tidur? Waeyooo???” dia melompat dari ranjangnya, dan berjalan menuju jendela di
sebelah kanan tempat tidurnya. Dilihatnya bulan tersenyum padanya. Malam ini
dia sedang terserang insomnia. Entah ini gara-gara apa, tak biasanya dia seperti
ini. Dia melamun sambil terus menatap langit. Minho.. Namja itu, namja itu yang
membuatnya menyukai malam. Yahhh.. dulu Andrea memang pernah menyukai Minho,
mungkin sampai sekarang masih menyukainya. Dulu, mereka selalu bersama, tapi
setelah Minho meneruskan sekolahnya di China dan Perancis, mereka jadi jarang
bertemu. Setidaknya, saat Minho masih bersama oppanya di China, mereka masih
sempat bertemu. Mereka akan menghabiskan waktu bersama jika bertemu. Tapi
setelah Minho pergi ke Perancis. Minho selalu berusaha menghindar darinya. Dia
pun tak tau apa sebabnya. Dia berusaha mencari tau, mengapa Minho selalu
menghindarinya. Sampai sekarang pun dia tak tau apa alasan Minho menghindarinya.
Dia masih melamun sambil terus memikirkannya, hingga akhirnya dia bosan juga,
tapi belum bisa mengantuk. Kemudian dilihatnya ke bawah sana. Euh.. Dilihatnya
mobil Chanyeol sudah singgah di garasi. Kapan oppanya pulang? Bagaimana dia
bisa tidak tau? Memangnya dia tadi melamunkan apa, sampai-sampai tak menyadari
bahwa oppnya sudah pulang.
Dilihatnya jam pada ponselnya,
pukul 11. Kenapa akhhir-akhir ini oppanya selalu pulang terlambat. Ditutupnya
korden jendela yang tadi sempat dia buka, dan bergegas menuju kamar oppanya.
Euuung, sepertinya Chanyeol sedang
mandi. Andrea tak melihat keberadaannya. Hanya jas di atas tempat tidur yang
sepertinya dilempar sembarangan oleh pemiliknya, dan sepatu yang belum
diletakkan pemiliknya di rak sepatu di sudut kamar. Ah, satu lagi. Dasi yang
tergeletak di atas meja di samping tempat tidur, dan belum dikembalikan ke
almari. Sepertinya sang pemilik sangat lelah sehingga tak sempat merapikannya.
Ahhh, baiklah.. Andrea pun merapikan pakaian Chanyeol yang berserakan. Mulai
dari mengembalikan sepatu ke rak, menggantung jas, dan terakhir mengembalikan
dasi ke almari. Ah, tunggu. Benda apa itu? Andrea melihat sebuah ‘benda’ yang
dia kenal di atas meja, tepat di dekat dasi Chanyeol. Bukankah ini… Aaakkkhh,
menggelikan. Kenapa Chanyeol seperti ini. Andrea segera mengembalikan dasi
Chanyeol ke almari dan duduk di meja rias di kamar Chanyeol. Menanti sang
pemilik kamar selesai mandi.
Ceklek! Akhirnya Chanyeol selesai
dengan urusannya –mandi. Untung dia tak telanjang. Andrea akan menjerit keras
dan membangunkan seluruh isi rumah jika Chanyeol hanya memakai selembar handuk
dan hanya menutupi bagian terlarangnya saja. Untung, dia mengenakan piyama
mandi..
“Oh, Andrea. Kau mengagetkanku
saja..” Chanyeol berjalan ke arah meja, dan menyembunyikan ‘benda’ itu di slorokan
mejanya. Andrea pura-pura tak melihatnya.
“Oppa.. kenapa belakangan ini kau
selalu pulang terlambat?” tanya Andrea.
“Uhhm.. Aku hanya pergi sebentar
setelah kerja dengan temanku..” Chanyeol mencari-cari alasan.
“Temanmu yang mana? Siwon oppa?
Minho oppa? Atau temanmu yang mana lagi?” Andrea memicingkan matanya.
“Kris.. Aku baru saja pergi dengan
Kris..” apa katanya? Kris? Bukankah Kris baru saja pergi dengannya, bagaimana
bisa Kris pergi dengan Chanyeol juga?
“Bohong..”
“Aku tidak berbohong..”
“Sekarang kau sudah mulai
berbohong padaku, oppa. Tidak mungkin Kris pergi denganmu. Dia baru saja pergi
denganku. Bagaimana bisa Kris juga pergi denganmu dalam waktu bersamaan?”
“Ahh itu.. Tunggu. Kau baru saja
pergi dengan Kris?” Chanyeol malah balik bertanya.
“Euung.. itu.. Aku tak sengaja
bertemu dengannya tadi. Aaaakkhhhh… sudahlah.. Itu tak penting. Sekarang
katakan padaku oppa, kenapa kau selalu pulang terlambat? Kau pergi dengan
wanita mana?” Chanyeol terlonjak kaget, apakah Andrea sudah mengetahuinya.
Chanyeol hanya diam seribu bahasa. Dan Andrea pun masih melemparkan tatapan
menginterogasi pada Chanyeol, menunggu jawaban yang akan diberikan Chanyeol.
“Aaahhh.. Baiklah.. Jika kau tak
mau memberi tahuku. Mianhae, jika aku terlalu lancang ingin tahu urusan
pribadimu oppa..” Andrea berjalan keluar kamar Chanyeol dengan kepala
tertunduk.
“Andreaaa.. Changkanman.. Tidak
ada ucapan ‘Saranghae’-kah untukku?” Andrea membalikkan tubuhnya dan kembali
menatap Chanyeol, kali ini dengan tatapan lembut.
“Oppa.. Sampai kapanpun aku akan
tetap mencintaimu dan mempercayaimu.. Aku percaya padamu, bahwa kau bisa
mengetahui apa yang terbaik bagimu dan juga bagiku.. Saranghaeyo Oppa..” Andrea
segera keluar dari kamar Chanyeol. Sedang Chanyeol hanya menatap kosong ke arah
pintu, yang tadi baru saja ditutup Andrea.
“Mianhae Andrea.. Aku akan
memberitahumu, jika waktunya sudah tepat. Sungguh.. Aku janji akan
memberitahumu. Tapi aku belum siap untuk saat ini..”
----------
Setelah sampai dikamarnya, Andrea
hanya menyandarkan tubuhnya pada pintu. Andrea baru menyadari, bahwa sekarang
mereka telah beranjak dewasa. Dan memang sudah sepantasnya, Chanyeol mencari
wanita untuk menjadi pasangannya. Yaaa… Andrea tak boleh kekanak-kanakan. Jika
dulu, Chanyeol memang miliknya. Tapi sekarang, Chanyeol memang harus mencari
orang lain untuk mendampinginya.
“Mianhae oppa.. aku hanya tidak
rela kau diambil orang lain oppa.. Setidaknya, jika wanita pilihanmu adalah
dia, tak apa.. aku ikhlas oppa.. aku sangat ikhlas. Karena, kalian berdua
adalah yang aku cintai di dunia ini.” Andrea berusaha merelakan Chanyeol
dimiliki wanita lain.
Bling.. bling.. bling..
Ponsel Andrea berbunyi lagi. Siapa
yang mengirim pesan padanya malam-malam begini. Dia pun segera membuka
ponselnya.
“Oh.. Yuri.. Ada apa dia sms
malam-malam begini?”
Andrea.. Mianhae jika mengganggumu tidur.
Jika kau sudah tidur, balas pesanku besok saja. Aku hanya ingin bertanya, malam
ini oppa-mu pulang pukul berapa?
“Kenapa dia bertanya tentang
Chanyeol oppa? Malam-malam lagi? Apa dia juga suka dengan Chanyeol oppa?” Andrea
berbicara sendiri dengan ponselnya.
Uhm.. gwenchana. Aku juga belum tidur.. Euung,
soal oppaku.. Oppaku pulang sekitar pukul 11. Memangnya ada apa kau bertanya
seperti itu?
Uhm..
Begitu.. Eeeung, jawab ini dulu, nanti aku beritahu. Biasanya, oppamu pulang
pukul berapa?
“Aiiisssshhh.. Sebenarnya ada apa
sih?” Andrea hanya menggerutu tapi tetap membalas pesan Yuri.
Biasanya Chanyeol oppa akan pulang pukul 9.
Paling lambat pukul 10. Tapi akhir-akhir ini, dia sering pulang terlambat..
Seperti tadi, dia pulang pukul 11.
Berarti benar dugaanku. Tadi saat aku
pulang bersama eommaku, aku lewat di depan rumah Taeyeon. Dan aku tak sengaja melihat
di depan rumah Taeyeon ada mobil Oppamu. Aku juga melihat Oppamu membukakan
pintu untuk Taeyeon. Sepertinya mereka berdua baru saja kencan. Apakah oppamu
tidak memberitahumu?
“Jadi benar wanita itu Taeyeon..
Hhhmm.. sekarang aku sudah lega..”
Aku juga
melihat sedikit kejanggalan. Taeyeon selalu bilang ada urusan setiap kali aku
mengajaknya ke kedai kopi. Dan Chanyeol oppa juga selalu pulang terlambat.
Uhhhmm.. sepertinya mereka memang sedang berkencan.
Jadi kau juga tidak tahu.. Oppamu tidak
bercerita padamu?
Aniyooo.. Chanyeol oppa sepertinya
menyembunyikan hal ini dariku. Pasalnya, saat aku bertanya padanya, kenapa dia
selalu pulang terlambat, dia akan menjawabnya dengan berbagai alasan.
Jadi begitu.. Baiklah.. kita lihat saja
nanti. Kita tunggu sampai salah satu dari mereka mengatakan pada kita.
Hhhhmmm.. Ne.. Sekarang ayo tidur. Aku sudah
mengantuk.. Annyeong..
Yeee.. Jaljayo Andrea..
Hhhmm… kau juga.
----------
Keesokan harinya saat Andrea di
kampus, dia langsung mencari Taeyeon. Tapi, dia tak tahu pasti letak kelas
Taeyeon. Dia hanya tau, kalau kelas musik berada di dekat aula. Andrea pun
langsung menuju ke sana.
“Yaaa.. Andreaaa..”
“Oh.. Yuri..”
“Kau ingin mencari Taeyeon?”
“Ne.. aku sedang mencarinya.. Aku
tidak akan memarahinya. Aku malah ingin berterima kasih padanya. Sungguh..”
“Yeyeye.. Ayo kita temui dia
sama-sama.” Mereka berdua pun berjalan berdampingan menuju ke kelas Taeyeon.
Sesampainya di sana..
“Ooohh, Andreaaa.. Yuri..” yang
mereka lihat hanya Jessica. Mereka celingak-celinguk mencari Taeyeon. Yaaa..
Jessica dan Taeyeon mengambil jurusan sama. Jadi mereka sekelas.
“Sic.. Mana Taeyeon?” tanya
Andrea.
“Kalian hanya menanyakan Taeyeon?
Kalian tak menanyakan aku?”
“Ahhh.. aniya.. bukan begitu. Aku
perlu bicara dengan Taeyeon..”
“Neee.. Kau itu jangan berlagak
seperti anak kecil.. Sekarang katakan dimana Taeyeon?”
“Dia belum datang mungkin
sebentar…. Ahhh… itu dia..” Jessica menunjuk ke belakang Yuri dan Andrea.
Dilihatnya, memang Taeyeon baru datang.
“Ooohhh.. Ada apa Sic? Kenapa kau
menunjukku seperti itu? Dan kalian.. Kenapa kalian ada di sini..”
“Mereka mencarimu..”
“Haha.. kalian rindu ya padaku..” Andrea
melirik ke arah Yuri, memberi kode padanya untuk mengikuti apa katanya.
“Uuuhhmmm.. Taeyeon-ah.. Kemarin
sepulang dari kampus, kau pergi kemana?” Andrea memulai aksinya.
“Aku.. aku hanya di rumah..” jawab
Taeyeon, bohong.
“Tapi kau bilang padaku bahwa kau
tak bisa menemaniku pergi ke kedai kopi..”
“Euuung.. acaranya dimulai malam
hari.. Eommaku… menyuruhku bersiap-siap terlebih dahulu…. Uuuhhhmm.. Makanya
aku pulang lebih awal..” Taeyeon masih saja berbohong.
“Begitukah? Apakah acaranya
dimulai pukul 9?” Andrea kembali menginterogasi.
“Waahhh.. bukankah oppamu juga
pulang pukul 9?” Yuri pun ikut memulainya. Dan terang saja, aksi mereka
berhasil. Taeyeon terlihat sedikit kaget saat Yuri mengatakan nama Chanyeol.
“Neee.. seharusnya oppaku pulang
pukul 9. Tapi tadi malam, dia pulang terlambat..”
“Aaaahhhhh… begitukah.. Memangnya
oppamu pergi kemana? Kenapa dia bisa pulang terlambat?” Yuri berkata sambil
sedikit mendorong Andrea, sehingga tangan kiri Andrea sedikit menyenggol lengan
Jessica yang sedang memegang minuman. Dan akhirnya, minuman itu pun menumpahi
tangan kiri Andrea. Untung minumannya tidak terkena baju Andrea.
“Ah, Andrea.. Mian..”
“Yeee.. mian mendorongmu..” Yuri
dan Jessica segera meminta maaf. Tapi Yuri mengatakannya dengan tatapan ‘Cepat
lakukan adegan selanjutnya’.
“Ooohh.. Ne.. gwenchana.. aku
ambil sapu tanganku dulu… ooohhhhh… tidak. Sepertinya ia tertinggal di rumah..
Uhm, Taeyeon-ah.. Bolehkah aku pinjam sapu tanganmu?”
“Euuung.. itu.. Uuhhhmm.. sapu
tanganku tertinggal..”
“ini pakai milikku saja..” Jessica
mengulurkan miliknya pada Andrea. Yaaa.. Jessica memang tidak mengetahui
rencana apapun dalam aksinya ini. Hanya Yuri dan dia saja yang tau.
“Ooohhh.. tidak perlu Sicca..
Gomawo.. Sepertinya aku bawa tissue..” Jessica pun hanya menatap ketiga
temannya ini dengan bingung. Sebenarnya ada apa dengan mereka bertiga. Aaakhh,
lebih baik dia diam saja.
“Uuuhhmmm.. Taeyeon-ah.. Kau
bilang sapu tanganmu tertinggal? Apakahhhh… sapu tanganmu tertinggal di kamar
oppaku?” ucap Andrea sambil mengelap tangannya yang tersiram minuman tadi.
“Oh.. ya ampun.. Memangnya kau
melihat sapu tangan Taeyeon di kamar Oppamu?” Yuri memasang wajah sok kaget.
Padahal sebenarnya tidak. Dan Jessica yang berusaha tidak ikut campur pun ikut
kaget.
“Neee… tadi malam sepertinya aku
melihat sapu tangan Taeyeon di atas meja oppa-ku. Sapu tangan itu berwarna
pink, dengan bordiran huruf ‘TY’. Bukankah itu milikmu Taeyeon-ah?” Yuri dan
Andrea menatap tajam Taeyeon. Sedang Jessica menatapnya dengan tatapan penasaran.
Seakan dia meminta Taeyeon menjelaskan semuanya.
“Yaaa.. Taeyeon-ah.. Apa itu
benar? Bagaimana bisa?” Jessica pun akhirnya bertanya pada Taeyeon.
“Euuung.. sebenarnya.. Tadi malam..
aku… aku pergi dengan oppa-mu.. Makanya oppa-mu pulang malam. Mian jika membuat
oppamu jadi terlambat pulang.. Dan.. dan soal sapu tangan itu.. aku… aku
meminjamkannya pada oppamu. Karena tadi malam, oppamu tidak membawa sapu
tangannya..” Andrea dan Yuri masih menatap Taeyeon. Dia belum mengatakan
semuanya.
“Lalu kenapa kalian bisa jalan
berdua?” Jessica bertanya lagi. Yaaa.. inilah yang dinanti Andrea dan Yuri.
“Karena.. karena sebenarnya…
kami.. kami sudah.. eeuuung.. kami sudah.. resmi berpacaran..” akhirnya
terlontar juga kata-kata itu.
“Mwooo??? Mworagu Taeyeon-ah? Apa
itu benar Taeyeon-ah? Andrea.. benarkah itu?” Jessica masih terkaget-kaget
dengan kata Taeyeon. Sedang Yuri dan Andrea hanya tersenyum, karena sebenarnya
mereka berdua sudah mengetahui hal itu.
“Kami berdua sudah tau itu
Taeyeon-ah.. Kenapa kau tak menceritakannya pada kami?” Andrea sedikit kecewa
pada Taeyeon, kenapa dia menyembunyikan sesuatu darinya.
“Neee.. Sejak kapan kalian resmi
berpacaran?” tanya Yuri.
“Uuuhhhmm.. baru kemarin lusa.”
“Kyaaaaa…. Jadi kalian benar-benar
sudah jadian? Yaaa… Taeyeon-ah.. kau tidak mau bercerita pada kami karena kau
tak mau mentraktir kami ya?” ucap Jessica.
“Neee… Sepertinya begitu..
Sepertinya dia sengaja tak mengatakannya supaya dia tak perlu mentraktir
kita..” Yuri ikut menimpali.
“Yaaaa… bukan begitu.. hanya saja…
Uhhhmm.. hanya saja..”
“Hanya saja apa? Ayo katakan..”
tanya Andrea.
“Hanya saja aku malu
mengatakannya.. Dan aku ingin mengatakannya jika waktunya sudah tepat.. Tapi,
sekarang kalian sudah mengetahuinya..” Taeyeon menundukkan kepalanya malu.
“Aigo.. gwenchana Taeyeon-ah.. Tak
perlu malu dengan kita..” ucap Jessica.
“Ne.. yang penting sekarang, kau
harus mentraktir kita..” ucap Yuri.
“Baiklah, setelah kelas terakhir
selesai. Aku akan mentraktir kalian..”
“Tapi.. aku tidak bisa jika hari
ini. Mianhae.. aku tidak bisa ikut.” Andrea teringat dengan janjinya pada Minho
tadi malam.
“Yaaa… Ini untuk merayakan hari
jadiannya Taeyeon dengan Oppamu. Sebentar lagi.. dia akan menjadi Eonni iparmu.
Kau itu..” ucap Jessica.
“Uuhhhmm.. Hari ini.. aku ada
janji dengan Minho Oppa.. Jeongmal mianhae.. Jeongmal mianhae eonni..” ucap
Andrea.
“Yaaakkk!!!! Jangan panggil aku
eonni.. Umur kita juga tak berbeda jauh. Iiissshhhh…”
“Tapi kan sebentar lagi kau juga
akan menjadi eonni-ku. Wkwkwkwkwk.. Tak apalah.. Perlu penyesuaian dulu..
Uuuhhhmmm.. Jadi mian aku tidak bisa ikut kalian nanti.”
“Yeyeyeyeye… Aku maklumi kalian..”
ucap Yuri.
“Nee.. kalian kan pasangan yang
sedang CLBK.. wkwkwkwk..” Taeyeon menertawai Andrea.
“Hehe.. dan semoga saja.. Kalian
segera jadian.. Jadi kami bisa mendapat jatah traktiran darimu juga..” ucap
Jessica.
“Hah? Kalau itu sih maumu Sica..”
mereka pun tertawa bersama..
----------
“Andreaaaa…” Minho melambaikan
tangannya pada Andrea yang sedang celingak-celinguk mencari dirinya.
“Oooohhh… oppa..” Andrea pun
segera berlari menghampiri Minho..
To Be Continued..