korean sky

korean sky

Rabu, 06 Juni 2012

[Part 4] Cherry Blossom Love


Author : Jung Yerin (Moza D.A.)
Title : Cherry Blossom Love
Chapter : 4
Genre : Friendship, Familyship, Romantic
Rating : Remaja


Main Cast:
-Seo Joo Hyun as Andreane Park

-Wu Yi Fan as Wu Yi Fan (Kris)

-Choi Minho as Choi Minho

STORY
PART 4

Andreane duduk sendirian di sebuah meja. Dia sengaja memilih meja yang berada di dekat jendela kaca. Karena meja yang di tempatinya saat ini menghadap ke taman belakang, dan taman itu dipenuhi oleh pohon sakura. Aaakkhhh… indah sekali. Andreane menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Saat ini, entah kenapa dia merasa sangat senang dan lebih bersemangat dari biasanya. Andreane sangat menikmati pemandangan di depannya, bahkan suara dentingan bel di caffe itu tak ia hiraukan sama sekali. Dia terlalu larut pada keindahan sakura-sakura di depannya itu.
Dentingan bel yang sengaja diletakkan di atas pintu caffe itu berbunyi lagi. Dan lagi-lagi Andrea tak menghiraukannya.
“Saya pesan Torabicca coffe..”
“Baik, silakan tunggu sebentar..” orang yang baru datang itu, duduk di dekat Andrea. Jadi, Andrea dapat mendengar suara orang itu dengan jelas. Euuung, sedikit mengganggu konsentrasinya. Orang itu mengatakan pesanannya dengan suara yang rendah, tapi nyaman di dengar. Andrea jadi penasaran dengan orang itu. Dia tolehkan kepalanya untuk melihat bagaimanakah rupa pemilik suara itu.
“Kriiissss!!!!!” Andrea sedikit menjerit mengucapkan itu saking kagetnya. Sehingga pelanggan lain melihat ke arahnya –termasuk Kris.
“Ooohhh… Andrea. Apa yang kau lakukan di sini.” Kris bertanya pada Andrea, lagi-lagi dengan suara rendahnya. Yaaa… itu karena saat ini dia harus menjaga ketenangan.
Kris berdiri di samping Andrea.
“Kau sudah lama di sini? Apa kau sendirian?” tanya Kris. Dilihatnya Kris dari atas hingga bawah. Dia terlihat berbeda dari sebelumnya –dari awal mereka bertemu hingga terakhir mereka bertemu. Rambutnya.. oh! Sepertinya Kris merapikan rambutnya kali ini, tapi rambut sebelah kirinya sudah sedikit berantakan. Kemeja putih yang melekat pada tubuhnya –dengan satu kancing teratas yang terbuka, dan dasi biru yang menghiasi lehernya –yang sudah sedikit melonggar. Tak lupa celana panjang hitam dan sepatu kantor seperti milik oppanya. Dan satu lagi, jas hitam yang ia tenteng dengan tangan kirinya. Hhhmm.. seperti inikah dia saat bekerja.
“Ne.. aku di sini sudah cukup lama. Hhhmm.. aku juga sendirian.”
“Kalau begitu bolehkah aku menemanimu.”
“Tentu..” Andrea melempar senyum pada Kris. Kris pun membalasnya dan menarik kursi di samping Andrea kemudian mendudukinya.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Kris memulai pembicaraan seperti biasa –menggunakan suara rendahnya.
“Uhhhmm.. Aku selalu menyempatkan datang ke sini sepulang dari kampus. Hanya ingin bersantai saja. Dan kau, kenapa kau ke sini?” ucapnya sambil melirik pakaian yang Kris pakai.
“Ooohhh.. aku baru saja pulang dari kantor. Dan kebetulan aku melihat ada kedai kopi di sini, jadi aku berniat ingin mampir dulu.” ucap Kris.
“Uuuhm.. I see..” ucap Andrea, tapi dalam hati ia juga berkata bahwa Kris tak terlihat buruk juga jika seperti ini. Eh eh eh.. apa yang dipikirkannya?! Bagaimana bisa dia memuji Kris?! Aaarrggghhh… buru-buru Andrea melempar pandangannya ke arah lain.
“Ini pesanan anda Tuan..” untung pelayan segera tiba.
“Ne.. gamsahamnida..” Tapi sekali lagi Andrea melirik Kris, dan dilihatnya pemuda itu sedang meneguk kopinya. Aaaarrrgghhh.. Ada apa ini? Kenapa Kris terlihat… euuung… molla.. Andrea cepat-cepat mengalihkan pandangannya dari Kris.
“Kau selesai bekerja pukul 8? Waahhh.. kau jadi memiliki waktu lebih banyak untuk bersantai.”
“Ne.. tapi sebenarnya aku pulang pukul 7. Dan meski aku pulang kerja lebih awal, tapi aku juga harus berangkat kerja lebih awal.”
“Ooohhh.. begitu.. Apa kau sangat sibuk? Sampai-sampai kau pulang terlambat..”
“Sebenarnya tidak. Hanya saja… aku perlu penyesuaian. Lingkungan di Korea, berbeda dengan di China. Begitu pula di kantor. Tapi beruntung, Korea memiliki pegawai yang ramah..”
“Hahahaha.. yeee… itu karena kau itu anak bosnya..”
“Haha.. mungkin.. Dan mungkin bila aku bukan anak ayahku, mereka juga tidak akan bertindak seramah tadi..”
“Hahahaha… yeee…”
“Uhhm, Andrea.. Apa ini tempat favorite mu?” tanya Kris sambil meletakkan kembali cangkirnya.
“Uhm.. Ne.. Ini tempat favorite ku. Makanya aku selalu menyempatkan datang ke sini.” Jawab Andrea tanpa menoleh ke arah Kris.
“Apa yang sedang kau lihat?” Kris yang merasa dari tadi Andrea mengalihkan pandangannya lurus ke depan, akhirnya penasaran juga.
“Itu..” Andrea menunjuk sesuatu di depannya dengan dagunya.
“Ada apa dengan taman di luar sana?” Kris masih belum memahami maksud Andrea.
“Taman di luar sana dipenuhi sakura.” Jelas Andrea.
“Jadi itu yang namanya sakura. Kalau begitu, aku sudah pernah melihat sebelumnya, hanya saja saat itu aku belum tau kalau itu adalah sakura. Karena saat itu bunganya belum muncul..” ucap Kris.
“Ne.. sayang. Saat ini bunganya juga belum muncul,” kata Andrea.
“Hhhmm.. ne.. aku juga ingin melihatnya,” mereka memandang sakura-sakura yang ada di depannya.
“Jika di China, aku memang tidak dapat melihat sakura. Sulit untuk mencarinya, karena memang tidak ada,” kata Andrea.
“Yeee… Di sana memang tak ada sakura. Oya ngomong-ngomong, kau juga sering ke China? Kata Chanyeol, ibu kalian juga orang China..” tanya Kris
“Ne.. dulu ketika aku masih SD dan SMP, setiap tahun kami akan merayakan natal di China. Dan ketika Chanyeol oppa bersekolah di China, kami juga sering menengoknya setiap tahun saat natal. Tapi, sekarang Chanyeol oppa disibukkan perkerjaannya. Sama seperti saat aku di SMA, Appa-ku dan Chanyeol oppa sibuk dengan pekerjaannya, karena Appa membuka cabang lagi di Singapura. Jadi… kami jarang ke China,”
“Neee.. setiap natal kedua, Chanyeol akan berkunjung ke rumah kakek-neneknya.. Kami jadi tak bisa merayakan natal bersama Chanyeol.”
“Lalu, kenapa tak merayakannya pada hari natal pertama?” tanya Andrea.
“Hari natal pertama, aku, Tao, Minho dan Siwon hyung merayakan dengan keluarga masing-masing.”
“Ohhh… ne.. Kalian tentunya juga punya keluarga sendiri. Wkwkwkwkwk..” mereka berdua tertawa, namun tak begitu keras. Takut jika menganggu ketenangan pelanggan lain.
“Yeee… Eeeeuuhhhmmm.. Jadi Andrea, kau suka sakura?”
“Ne.. Sangat suka..”
“Waeee?
“Aku tidak tau kapan mulainya, hhmm.. ne.. aku tidak tau kapan aku mulai menyukai sakura, tapi setiap kali aku melihat sakura, hatiku menjadi tenang. Setiap kali aku sedang stress karena sesuatu, tapi jika sudah melihat sakura, meski tidak dapat menghilangkannya, setidaknya stressku jadi sedikit berkurang.”
“Waawww.. Jadi sakura seperti obat bagimu?”
“Uhhm, kurang lebih begitu.. Dan kau.. Apa yang akan kau lakukan jika sedang stress?”
“Aku.. Uhhhmm.. Aku adalah nappeun namja. Aku akan pergi minum jika sedang stress..” Kris tersenyum miris.
“Ooo.. begitukah? Tapi.. saranku, lebih baik kau mengurangi porsi minummu. Itu tak baik untuk kesehatanmu.. Memangnya.. kau dapat menghabiskan berapa botol soju?”
“Aku dapat menghabiskan 3 botol soju.. Dan aku juga sudah mencoba untuk tidak minum saat stress, tapi itu sulit.. Tapi jika aku sedang tidak stress, aku juga tidak minum. Dan belakangan ini, aku juga sudah tidak minum..” cerita Kris pada Andrea.
“Neee.. Arayooo… Berkat diriku?” Ooopsss, Andrea keceplosan.
“Euuung.. itu.. Hehe.. Ne.. gomawo Andrea..” Kris salah tingkah, begitu juga Andrea.
                ----------
                Kris dan Andrea berjalan di trotoar sambil sesekali bercanda. Kadang-kadang Andrea akan menjerit, jika ada seekor katak melompat di dekatnya. Dan kemudian tawa mereka akan menghiasi. Mereka berjalan bersama dari halte menuju rumah Andrea. Yaaa.. Kris tidak mempunyai mobil di Korea, karena dia memang tidak suka. Ayahnya sudah pernah berniat memberinya mobil, selama Kris membantu pekerjaannya di Korea. Tapi Kris tak mau. Dia lebih memilih menggunakan jasa bus umum untuk bepergian. Dan tadi saat Andrea sedang menelpon Chanyeol untuk menjemputnya, sepertinya Chanyeol sedang ada janji dengan orang lain. Dan Andrea pun berniat pulang dengan bus, jadi Kris berniat untuk mengantarnya. Awalnya Andrea menolak, tapi akhirnya dia mau juga. Tak baik bukan jika seorang wanita harus berjalan sendirian dari halte ke rumahnya malam-malam begini. Apalagi ini sudah pukul 10 malam. Banyak sekali sleepwalker berkeliaran.
Mereka berjalan bersama, layaknya sepasang kekasih. Kris pun memakaikan jasnya ke Andrea. Karena pakaian yang Andrea gunakan lumayan tipis saat ini. Dan udara malam ini lumayan dingin, karena sudah memasuki musim gugur.
Setelah mereka berdua sampai di pintu gerbang rumah Andrea, mereka berdiri saling berhadapan.
“Uhhhm.. gomawo Kris.. Kau sudah mengantarku..” ucap Andrea sambil melempar senyum ke arah Kris.
“Neee.. ceonma..” jawab Kris dan membalas senyum Andrea.
“Kau tidak mampir dulu?” tawar Andrea.
“Uhm.. gomawo, tidak usah. Aku harus segera pulang..” tolak Kris dengan lembut.
“Oohh, baiklah..” Andrea melepas jas milik Kris yang tadi ia gunakan.
“Uhm.. yogi.. jeongmal gomawo..” ucap Andrea sambil mengulurkan jas milik Kris.
“Neee… Euuung, masuklah segera..” Kris menyuruh Andrea segera masuk ke rumahnya.
“Ani.. Kau pulanglah dulu. Baru aku akan masuk.”
“Uhhmm.. Baiklah..” diacaknya rambut Andrea lembut.
“Annyeong..” Kris melempar senyumnya lagi pada Andrea, sebelum berbalik dan berjalan meninggalkannya. Andrea selalu tersenyum melihat punggung Kris yang kian menjauh. Kris berjalan semakin jauh dari Andrea, namun sebelum Kris menghilang di ujung jalan, Kris membalikkan tubuhnya lagi. Dia melambaikan tangannya pada Andrea, dan Andrea pun membalasnya, dilambaikannya pula tangannya pada Kris. Meski gelap dan hanya dibantu dengan cahaya lampu, Andrea dapat melihat senyum Kris dengan jelas. Hingga akhirnya Kris menghilang di ujung jalan. Brulah Andrea masuk ke dalam rumahnya.
----------
Andrea baru saja selesai mandi. Dan dia pun berjalan menuju ke meja di samping tempat tidurnya. Diambilnya ponsel dengan case berwarna putih miliknya, dan mulai mengeceknya.
Ada sebuah pesan masuk.

Aku sudah sampai di rumah dengan selamat.. Uhhhmm.. ya sudah.. Jaljayo.. ^^

Yeee.. aku juga sudah mau tidur. Kau juga jangan tidur terlalu larut.. Night.. :)

Setelah Andrea mengirim pesan tadi pada Kris, tak ada balasan apapun dari Kris. Mungkin dia sudah benar-benar lelah. Yaaa.. gwenchana..
Bling.. bling.. bling..
Tapi lagi-lagi ponsel Andrea berbunyi. Tanda bahwa ada satu pesan masuk.
From: Minho. Ternyata dari dia.

Andrea, apakah besok kau ada waktu?

Oh, Minho oppa.. Uhhhmm.. tentu. Memangnya ada apa?

Besok, sepulang dari kampus. Apa kau mau pergi denganku?

Ah, tentu.. ;)

Kalau begitu, sampai jumpa besok ;)

Ne.. ^^

Andrea pun meletakkan ponselnya kembali di atas meja. Dia berjalan menuju saklar dan mematikan lampu di kamarnya. Setelah itu dibaringkannya tubuh kurusnya, dan dirapikannya selimutnya. Sekarang tinggal menutup matanya… Aaakkkhhhh… kenapa terasa susah.. Kelopak matanya sudah mengatup, tapi pikirannya masih belum istirahat. Aaakkkhhhh… ada apa ini.

“Aaaakkhhh… kenapa aku tidak bisa tidur? Waeyooo???” dia melompat dari ranjangnya, dan berjalan menuju jendela di sebelah kanan tempat tidurnya. Dilihatnya bulan tersenyum padanya. Malam ini dia sedang terserang insomnia. Entah ini gara-gara apa, tak biasanya dia seperti ini. Dia melamun sambil terus menatap langit. Minho.. Namja itu, namja itu yang membuatnya menyukai malam. Yahhh.. dulu Andrea memang pernah menyukai Minho, mungkin sampai sekarang masih menyukainya. Dulu, mereka selalu bersama, tapi setelah Minho meneruskan sekolahnya di China dan Perancis, mereka jadi jarang bertemu. Setidaknya, saat Minho masih bersama oppanya di China, mereka masih sempat bertemu. Mereka akan menghabiskan waktu bersama jika bertemu. Tapi setelah Minho pergi ke Perancis. Minho selalu berusaha menghindar darinya. Dia pun tak tau apa sebabnya. Dia berusaha mencari tau, mengapa Minho selalu menghindarinya. Sampai sekarang pun dia tak tau apa alasan Minho menghindarinya. Dia masih melamun sambil terus memikirkannya, hingga akhirnya dia bosan juga, tapi belum bisa mengantuk. Kemudian dilihatnya ke bawah sana. Euh.. Dilihatnya mobil Chanyeol sudah singgah di garasi. Kapan oppanya pulang? Bagaimana dia bisa tidak tau? Memangnya dia tadi melamunkan apa, sampai-sampai tak menyadari bahwa oppnya sudah pulang.
Dilihatnya jam pada ponselnya, pukul 11. Kenapa akhhir-akhir ini oppanya selalu pulang terlambat. Ditutupnya korden jendela yang tadi sempat dia buka, dan bergegas menuju kamar oppanya.
Euuung, sepertinya Chanyeol sedang mandi. Andrea tak melihat keberadaannya. Hanya jas di atas tempat tidur yang sepertinya dilempar sembarangan oleh pemiliknya, dan sepatu yang belum diletakkan pemiliknya di rak sepatu di sudut kamar. Ah, satu lagi. Dasi yang tergeletak di atas meja di samping tempat tidur, dan belum dikembalikan ke almari. Sepertinya sang pemilik sangat lelah sehingga tak sempat merapikannya. Ahhh, baiklah.. Andrea pun merapikan pakaian Chanyeol yang berserakan. Mulai dari mengembalikan sepatu ke rak, menggantung jas, dan terakhir mengembalikan dasi ke almari. Ah, tunggu. Benda apa itu? Andrea melihat sebuah ‘benda’ yang dia kenal di atas meja, tepat di dekat dasi Chanyeol. Bukankah ini… Aaakkkhh, menggelikan. Kenapa Chanyeol seperti ini. Andrea segera mengembalikan dasi Chanyeol ke almari dan duduk di meja rias di kamar Chanyeol. Menanti sang pemilik kamar selesai mandi.
Ceklek! Akhirnya Chanyeol selesai dengan urusannya –mandi. Untung dia tak telanjang. Andrea akan menjerit keras dan membangunkan seluruh isi rumah jika Chanyeol hanya memakai selembar handuk dan hanya menutupi bagian terlarangnya saja. Untung, dia mengenakan piyama mandi..
“Oh, Andrea. Kau mengagetkanku saja..” Chanyeol berjalan ke arah meja, dan menyembunyikan ‘benda’ itu di slorokan mejanya. Andrea pura-pura tak melihatnya.
“Oppa.. kenapa belakangan ini kau selalu pulang terlambat?” tanya Andrea.
“Uhhm.. Aku hanya pergi sebentar setelah kerja dengan temanku..” Chanyeol mencari-cari alasan.
“Temanmu yang mana? Siwon oppa? Minho oppa? Atau temanmu yang mana lagi?” Andrea memicingkan matanya.
“Kris.. Aku baru saja pergi dengan Kris..” apa katanya? Kris? Bukankah Kris baru saja pergi dengannya, bagaimana bisa Kris pergi dengan Chanyeol juga?
“Bohong..”
“Aku tidak berbohong..”
“Sekarang kau sudah mulai berbohong padaku, oppa. Tidak mungkin Kris pergi denganmu. Dia baru saja pergi denganku. Bagaimana bisa Kris juga pergi denganmu dalam waktu bersamaan?”
“Ahh itu.. Tunggu. Kau baru saja pergi dengan Kris?” Chanyeol malah balik bertanya.
“Euung.. itu.. Aku tak sengaja bertemu dengannya tadi. Aaaakkhhhh… sudahlah.. Itu tak penting. Sekarang katakan padaku oppa, kenapa kau selalu pulang terlambat? Kau pergi dengan wanita mana?” Chanyeol terlonjak kaget, apakah Andrea sudah mengetahuinya. Chanyeol hanya diam seribu bahasa. Dan Andrea pun masih melemparkan tatapan menginterogasi pada Chanyeol, menunggu jawaban yang akan diberikan Chanyeol.
“Aaahhh.. Baiklah.. Jika kau tak mau memberi tahuku. Mianhae, jika aku terlalu lancang ingin tahu urusan pribadimu oppa..” Andrea berjalan keluar kamar Chanyeol dengan kepala tertunduk.
“Andreaaa.. Changkanman.. Tidak ada ucapan ‘Saranghae’-kah untukku?” Andrea membalikkan tubuhnya dan kembali menatap Chanyeol, kali ini dengan tatapan lembut.
“Oppa.. Sampai kapanpun aku akan tetap mencintaimu dan mempercayaimu.. Aku percaya padamu, bahwa kau bisa mengetahui apa yang terbaik bagimu dan juga bagiku.. Saranghaeyo Oppa..” Andrea segera keluar dari kamar Chanyeol. Sedang Chanyeol hanya menatap kosong ke arah pintu, yang tadi baru saja ditutup Andrea.
“Mianhae Andrea.. Aku akan memberitahumu, jika waktunya sudah tepat. Sungguh.. Aku janji akan memberitahumu. Tapi aku belum siap untuk saat ini..”
----------
Setelah sampai dikamarnya, Andrea hanya menyandarkan tubuhnya pada pintu. Andrea baru menyadari, bahwa sekarang mereka telah beranjak dewasa. Dan memang sudah sepantasnya, Chanyeol mencari wanita untuk menjadi pasangannya. Yaaa… Andrea tak boleh kekanak-kanakan. Jika dulu, Chanyeol memang miliknya. Tapi sekarang, Chanyeol memang harus mencari orang lain untuk mendampinginya.
“Mianhae oppa.. aku hanya tidak rela kau diambil orang lain oppa.. Setidaknya, jika wanita pilihanmu adalah dia, tak apa.. aku ikhlas oppa.. aku sangat ikhlas. Karena, kalian berdua adalah yang aku cintai di dunia ini.” Andrea berusaha merelakan Chanyeol dimiliki wanita lain.
Bling.. bling.. bling..
Ponsel Andrea berbunyi lagi. Siapa yang mengirim pesan padanya malam-malam begini. Dia pun segera membuka ponselnya.
“Oh.. Yuri.. Ada apa dia sms malam-malam begini?”

Andrea.. Mianhae jika mengganggumu tidur. Jika kau sudah tidur, balas pesanku besok saja. Aku hanya ingin bertanya, malam ini oppa-mu pulang pukul berapa?

“Kenapa dia bertanya tentang Chanyeol oppa? Malam-malam lagi? Apa dia juga suka dengan Chanyeol oppa?” Andrea berbicara sendiri dengan ponselnya.

Uhm.. gwenchana. Aku juga belum tidur.. Euung, soal oppaku.. Oppaku pulang sekitar pukul 11. Memangnya ada apa kau bertanya seperti itu?

Uhm.. Begitu.. Eeeung, jawab ini dulu, nanti aku beritahu. Biasanya, oppamu pulang pukul berapa?

“Aiiisssshhh.. Sebenarnya ada apa sih?” Andrea hanya menggerutu tapi tetap membalas pesan Yuri.

Biasanya Chanyeol oppa akan pulang pukul 9. Paling lambat pukul 10. Tapi akhir-akhir ini, dia sering pulang terlambat.. Seperti tadi, dia pulang pukul 11.

Berarti benar dugaanku. Tadi saat aku pulang bersama eommaku, aku lewat di depan rumah Taeyeon. Dan aku tak sengaja melihat di depan rumah Taeyeon ada mobil Oppamu. Aku juga melihat Oppamu membukakan pintu untuk Taeyeon. Sepertinya mereka berdua baru saja kencan. Apakah oppamu tidak memberitahumu?

“Jadi benar wanita itu Taeyeon.. Hhhmm.. sekarang aku sudah lega..”

Aku juga melihat sedikit kejanggalan. Taeyeon selalu bilang ada urusan setiap kali aku mengajaknya ke kedai kopi. Dan Chanyeol oppa juga selalu pulang terlambat. Uhhhmm.. sepertinya mereka memang sedang berkencan.

Jadi kau juga tidak tahu.. Oppamu tidak bercerita padamu?

Aniyooo.. Chanyeol oppa sepertinya menyembunyikan hal ini dariku. Pasalnya, saat aku bertanya padanya, kenapa dia selalu pulang terlambat, dia akan menjawabnya dengan berbagai alasan.

Jadi begitu.. Baiklah.. kita lihat saja nanti. Kita tunggu sampai salah satu dari mereka mengatakan pada kita.

Hhhhmmm.. Ne.. Sekarang ayo tidur. Aku sudah mengantuk.. Annyeong..

Yeee.. Jaljayo Andrea..

Hhhmm… kau juga.

----------
Keesokan harinya saat Andrea di kampus, dia langsung mencari Taeyeon. Tapi, dia tak tahu pasti letak kelas Taeyeon. Dia hanya tau, kalau kelas musik berada di dekat aula. Andrea pun langsung menuju ke sana.
“Yaaa.. Andreaaa..”
“Oh.. Yuri..”
“Kau ingin mencari Taeyeon?”
“Ne.. aku sedang mencarinya.. Aku tidak akan memarahinya. Aku malah ingin berterima kasih padanya. Sungguh..”
“Yeyeye.. Ayo kita temui dia sama-sama.” Mereka berdua pun berjalan berdampingan menuju ke kelas Taeyeon. Sesampainya  di sana..
“Ooohh, Andreaaa.. Yuri..” yang mereka lihat hanya Jessica. Mereka celingak-celinguk mencari Taeyeon. Yaaa.. Jessica dan Taeyeon mengambil jurusan sama. Jadi mereka sekelas.
“Sic.. Mana Taeyeon?” tanya Andrea.
“Kalian hanya menanyakan Taeyeon? Kalian tak menanyakan aku?”
“Ahhh.. aniya.. bukan begitu. Aku perlu bicara dengan Taeyeon..”
“Neee.. Kau itu jangan berlagak seperti anak kecil.. Sekarang katakan dimana Taeyeon?”
“Dia belum datang mungkin sebentar…. Ahhh… itu dia..” Jessica menunjuk ke belakang Yuri dan Andrea. Dilihatnya, memang Taeyeon baru datang.
“Ooohhh.. Ada apa Sic? Kenapa kau menunjukku seperti itu? Dan kalian.. Kenapa kalian ada di sini..”
“Mereka mencarimu..”
“Haha.. kalian rindu ya padaku..” Andrea melirik ke arah Yuri, memberi kode padanya untuk mengikuti apa katanya.
“Uuuhhmmm.. Taeyeon-ah.. Kemarin sepulang dari kampus, kau pergi kemana?” Andrea memulai aksinya.
“Aku.. aku hanya di rumah..” jawab Taeyeon, bohong.
“Tapi kau bilang padaku bahwa kau tak bisa menemaniku pergi ke kedai kopi..”
“Euuung.. acaranya dimulai malam hari.. Eommaku… menyuruhku bersiap-siap terlebih dahulu…. Uuuhhhmm.. Makanya aku pulang lebih awal..” Taeyeon masih saja berbohong.
“Begitukah? Apakah acaranya dimulai pukul 9?” Andrea kembali menginterogasi.
“Waahhh.. bukankah oppamu juga pulang pukul 9?” Yuri pun ikut memulainya. Dan terang saja, aksi mereka berhasil. Taeyeon terlihat sedikit kaget saat Yuri mengatakan nama Chanyeol.
“Neee.. seharusnya oppaku pulang pukul 9. Tapi tadi malam, dia pulang terlambat..”
“Aaaahhhhh… begitukah.. Memangnya oppamu pergi kemana? Kenapa dia bisa pulang terlambat?” Yuri berkata sambil sedikit mendorong Andrea, sehingga tangan kiri Andrea sedikit menyenggol lengan Jessica yang sedang memegang minuman. Dan akhirnya, minuman itu pun menumpahi tangan kiri Andrea. Untung minumannya tidak terkena baju Andrea.
“Ah, Andrea.. Mian..”
“Yeee.. mian mendorongmu..” Yuri dan Jessica segera meminta maaf. Tapi Yuri mengatakannya dengan tatapan ‘Cepat lakukan adegan selanjutnya’.
“Ooohh.. Ne.. gwenchana.. aku ambil sapu tanganku dulu… ooohhhhh… tidak. Sepertinya ia tertinggal di rumah.. Uhm, Taeyeon-ah.. Bolehkah aku pinjam sapu tanganmu?”
“Euuung.. itu.. Uuhhhmm.. sapu tanganku tertinggal..”
“ini pakai milikku saja..” Jessica mengulurkan miliknya pada Andrea. Yaaa.. Jessica memang tidak mengetahui rencana apapun dalam aksinya ini. Hanya Yuri dan dia saja yang tau.
“Ooohhh.. tidak perlu Sicca.. Gomawo.. Sepertinya aku bawa tissue..” Jessica pun hanya menatap ketiga temannya ini dengan bingung. Sebenarnya ada apa dengan mereka bertiga. Aaakhh, lebih baik dia diam saja.
“Uuuhhmmm.. Taeyeon-ah.. Kau bilang sapu tanganmu tertinggal? Apakahhhh… sapu tanganmu tertinggal di kamar oppaku?” ucap Andrea sambil mengelap tangannya yang tersiram minuman tadi.
“Oh.. ya ampun.. Memangnya kau melihat sapu tangan Taeyeon di kamar Oppamu?” Yuri memasang wajah sok kaget. Padahal sebenarnya tidak. Dan Jessica yang berusaha tidak ikut campur pun ikut kaget.
“Neee… tadi malam sepertinya aku melihat sapu tangan Taeyeon di atas meja oppa-ku. Sapu tangan itu berwarna pink, dengan bordiran huruf ‘TY’. Bukankah itu milikmu Taeyeon-ah?” Yuri dan Andrea menatap tajam Taeyeon. Sedang Jessica menatapnya dengan tatapan penasaran. Seakan dia meminta Taeyeon menjelaskan semuanya.
“Yaaa.. Taeyeon-ah.. Apa itu benar? Bagaimana bisa?” Jessica pun akhirnya bertanya pada Taeyeon.
“Euuung.. sebenarnya.. Tadi malam.. aku… aku pergi dengan oppa-mu.. Makanya oppa-mu pulang malam. Mian jika membuat oppamu jadi terlambat pulang.. Dan.. dan soal sapu tangan itu.. aku… aku meminjamkannya pada oppamu. Karena tadi malam, oppamu tidak membawa sapu tangannya..” Andrea dan Yuri masih menatap Taeyeon. Dia belum mengatakan semuanya.
“Lalu kenapa kalian bisa jalan berdua?” Jessica bertanya lagi. Yaaa.. inilah yang dinanti Andrea dan Yuri.
“Karena.. karena sebenarnya… kami.. kami sudah.. eeuuung.. kami sudah.. resmi berpacaran..” akhirnya terlontar juga kata-kata itu.
“Mwooo??? Mworagu Taeyeon-ah? Apa itu benar Taeyeon-ah? Andrea.. benarkah itu?” Jessica masih terkaget-kaget dengan kata Taeyeon. Sedang Yuri dan Andrea hanya tersenyum, karena sebenarnya mereka berdua sudah mengetahui hal itu.
“Kami berdua sudah tau itu Taeyeon-ah.. Kenapa kau tak menceritakannya pada kami?” Andrea sedikit kecewa pada Taeyeon, kenapa dia menyembunyikan sesuatu darinya.
“Neee.. Sejak kapan kalian resmi berpacaran?” tanya Yuri.
“Uuuhhhmm.. baru kemarin lusa.”
“Kyaaaaa…. Jadi kalian benar-benar sudah jadian? Yaaa… Taeyeon-ah.. kau tidak mau bercerita pada kami karena kau tak mau mentraktir kami ya?” ucap Jessica.
“Neee… Sepertinya begitu.. Sepertinya dia sengaja tak mengatakannya supaya dia tak perlu mentraktir kita..” Yuri ikut menimpali.
“Yaaaa… bukan begitu.. hanya saja… Uhhhmm.. hanya saja..”
“Hanya saja apa? Ayo katakan..” tanya Andrea.
“Hanya saja aku malu mengatakannya.. Dan aku ingin mengatakannya jika waktunya sudah tepat.. Tapi, sekarang kalian sudah mengetahuinya..” Taeyeon menundukkan kepalanya malu.
“Aigo.. gwenchana Taeyeon-ah.. Tak perlu malu dengan kita..” ucap Jessica.
“Ne.. yang penting sekarang, kau harus mentraktir kita..” ucap Yuri.
“Baiklah, setelah kelas terakhir selesai. Aku akan mentraktir kalian..”
“Tapi.. aku tidak bisa jika hari ini. Mianhae.. aku tidak bisa ikut.” Andrea teringat dengan janjinya pada Minho tadi malam.
“Yaaa… Ini untuk merayakan hari jadiannya Taeyeon dengan Oppamu. Sebentar lagi.. dia akan menjadi Eonni iparmu. Kau itu..” ucap Jessica.
“Uuhhhmm.. Hari ini.. aku ada janji dengan Minho Oppa.. Jeongmal mianhae.. Jeongmal mianhae eonni..” ucap Andrea.
“Yaaakkk!!!! Jangan panggil aku eonni.. Umur kita juga tak berbeda jauh. Iiissshhhh…”
“Tapi kan sebentar lagi kau juga akan menjadi eonni-ku. Wkwkwkwkwk.. Tak apalah.. Perlu penyesuaian dulu.. Uuuhhhmmm.. Jadi mian aku tidak bisa ikut kalian nanti.”
“Yeyeyeyeye… Aku maklumi kalian..” ucap Yuri.
“Nee.. kalian kan pasangan yang sedang CLBK.. wkwkwkwk..” Taeyeon menertawai Andrea.
“Hehe.. dan semoga saja.. Kalian segera jadian.. Jadi kami bisa mendapat jatah traktiran darimu juga..” ucap Jessica.
“Hah? Kalau itu sih maumu Sica..” mereka pun tertawa bersama..
----------
“Andreaaaa…” Minho melambaikan tangannya pada Andrea yang sedang celingak-celinguk mencari dirinya.
“Oooohhh… oppa..” Andrea pun segera berlari menghampiri Minho..

 To Be Continued..

Rabu, 30 Mei 2012

[Part 3] Cherry Blossom Love


Author : Jung Yerin (Moza D.A.)
Genre : Friendship, Familyship, Romantic
Rating : Remaja
Main Cast :
-Seo Joo Hyun as Andreane Park

-Wu Yi Fan as Wu Yi Fan (Kris)

-Choi Minho as Choi Minho

Other Cast : Find by yourself
PART 3
               Keesokan harinya saat Andreane sedang kuliah, ia berjalan di koridor ‘kecelakaan bola basket’ itu lagi. Tiba-tiba ia merasa ada yang mengganjal, dia merasa ada sesuatu yang sempat ia lupakan namun ia ingat lagi. Tapi ‘sesuatu’ itu tidak bisa ia ingat lagi. Ia nikmati berjalan di koridor itu, ia melangkahkan kakinya pelan-pelan, sambil mengingat-ingat ‘sesuatu’ yang ia lupakan tadi.
                Andrea melirik ke bawah, ingin melihat pohon sakura yang ada di bawah sana. Mungkin dengan begitu, bisa membantunya mengingat ‘sesuatu’ itu. Tapi saat ia menengok ke bawah, yang dilihatnya adalah lapangan basket yang dipenuhi begitu banyak kepala manusia. Aaakkhhh, lapangan basket? Andrea seperti mendapatkan sedikit cahaya menuju ke ingatan ‘sesuatu’ yang sempat ia lupakan.
              “Andreaaa!!!” Jessica memanggil Andrea dari kejauhan. Membuyarkan konsentrasinya mengingat-ingat ‘sesuatu’.
                “Mwo? Ada apa?” tanya Andrea setelah jarak mereka dekat.
                “Ikut aku sekarang!” Jessica langsung menarik tangan Andrea. Andrea pun hanya menurut saja, akan kemanakah ia dibawa.
                Setelah mereka berdua –Jessica & Andrea, berlari-lari. Akhirnya sampailah mereka di lapangan basket. Lapangan basket? Andrea bingung. Ada apa Jessica mengajaknya ke sini? Ia menatap Jessica dengan tatapan ‘kenapa kau mengajakku ke sini?’. Dan Jessica pun menunjuk sesuatu… uhhhm… lebih tepatnya seseorang.
                Minho. Ya, Minho-lah yang ditunjuk Jessica. Andrea mengamati Minho yang sedang bermain basket. Aaaarrrggghhh……. Kenapa dia harus melihat Minho seperti ini lagi. Sudah sekian lama Andrea mencoba melupakan pria itu, namun ia tak bisa. Akhirnya ia menyerah, dan membiarkan perasaan itu tinggal di hatinya. 
               Tapi…. Andrea juga melihat Kris. Ooohhhh…. Kris. Kenapa Andrea seakan teringat dengan pekerjaannya mengingat-ingat ‘sesuatu’ lagi? Andrea juga seperti mendapat cahaya lebih terang menuju ke ingatannya tentang ‘sesuatu’ itu.
                Braaakkkk…. Praaaaang….
                Kris menembakkan bola ke keranjang, namun tidak tepat sasaran. Hingga bolanya memantul ke tempat lain. Saking kerasnya, bolanya mengenai pot bunga yang digantung hingga potnya pecah. Aakhhh, akhirnya Andreane mengingat semuanya. Ia telah kembali ke ingatannya tentang ‘sesuatu’ itu.
                “Aaarrgghhhh….. Lagi-lagi kau itu Kris! Kau sendiri yang harus mempertanggung jawabkannya. Cepat ambil bolanya.” Ucap salah satu dari mereka yang bermain basket bersama Minho dan Kris. Hey, ada apa ini? Memang benar Kris yang memecahkan potnya, tapi kenapa mereka tidak ikut bertanggung jawab. Aaaakkkhhh, kenapa pula Kris hanya mengangguk menanggapinya. Andreane marah dalam hatinya sendiri.
                Kris berlari menuju pot yang telah dipecahkannya tadi. Dia mengambil bolanya dan kembali lagi ke lapangan, dia lempar bola itu ke orang yang telah menyuruhnya tadi. Setelah itu dia berlari menuju pot tadi, bermaksud ingin membersihkannya. Tapi setelah berada dalam jarak 5 meter dari pot itu, Kris hanya berdiri mematung sambil mengatur nafasnya karena berlari tadi. Kenapa gadis itu tak datang membantunya lagi. Aaaarrgghhhh…. Pekerjaan ini akan terasa berat tanpanya. Batin Kris. Kris pun berjongkok membersihkan pecahan pot yang telah ia pecahkan.
                Trap.. trap.. trap..
                Langkah kaki Andrea yang mendekati Kris tidak terlalu jelas saking ramainya tempat itu.
                Kris yang sedang berjongkok, melihat sepasang kaki jenjang berdiri di depannya. Kris pun mendongakkan kepalanya, mencari tau siapakah pemilik kaki jenjang itu. Andreane… Dia tersenyum padanya dan berhasil membuat hatinya girang. Hati Kris seakan bersorak melihat kedatangan Andrea. Akhirnya kau datang juga, ucapnya pada Andreane dalam hati.
                “Jadi, kau lelaki yang sama dengat saat itu?” ucap Andrea diikuti senyum malaikatnya.
                “Ne… Dan kau gadis yang sama dengan saat itu.” Kris pun tersenyum pada Andrea. Andrea pun ikut berjongkok dan membantu Kris membersihkan pecahan pot tadi.
                “Maaf, telah melupakanmu.” ucap Andreane di tengah-tengah kesibukan mereka membersihkan.
                “Maksudmu?” tanya Kris.
                “Maaf karena aku lupa pernah bertemu denganmu. Aku… melupakanmu begitu saja..” ucap Andrea.
                “Ooohhh itu… Gwenchana.. Tidak penting juga untuk diingat.” Andrea tersenyum mendengar perkataan Kris. Aaahhhh… berada di dekat lelaki ini membuat hatinya senang.
                ----------
                “Yogi.. Kau pasti membutuhkannya.” Ucap Andrea sambil mengulurkan sapu tangan pada Kris.
                “Uhm.. Ini milikku..” ucap Kris sambil tersenyum.
                “Neee… Mian, aku lupa mengembalikannya padamu.” Ucap Andrea.
                “Hhhm.. Gwenchana.” Kris menerima sapu tangannya dan memasukkannya ke saku celananya. Andrea hanya melihat tingkah Kris dengan bingung. Kenapa tidak ia gunakan untuk membersihkan tangannya? Kris mengambil sapu tangan miliknya yang lain, dan diulurkannya pada Andrea.
                “Oohhh… Ani.. Kali ini aku membawa milikku. Gomawo..” ucap Andrea pada Kris. Okey, Kris menyerah. Dia pun menggunakan sapu tangan itu untuk membersihkan tangannya sendiri. Andrea pun melakukan hal yang sama.
                “Uuuhhhmmm.. Kau sudah makan siang?” Kris bertanya pada Andrea.
                “Hhhm.. Belum.”
                “Kalau begitu. Kau mau makan bersamaku?”
                “Euung.. Ne, tentu.”
                ----------
                “Jadi, kau tidak sedang kuliah? Lalu, untuk apa kau ke SOPA?” tanya Andrea sambil menusukkan garpunya ke samgyeopsolnya.
                “Aku ingin menemui temanku, Amber. Dan kebetulan, aku bertemu dengan teman-teman klub basketku dulu.” ucap Kris.
                “Amber? Gadis tomboy itu temanmu? Waw!”
                “Uhm.. Kau mengenalnya?” tanya Kris pada Andrea sambil menelan makanannya.
                “Tentu. Dia adalah Sekretaris OSIS di sekolahku dulu..” jawab Andrea.
                “Hhhhmm.. Yeee.. Meski bahasa Korea-nya sedikit kacau, tapi Amber tipe orang yang ramah. Jadi, banyak yang dekat dengannya.” Ucap Kris.
                “Hhhmm.. Ne.. Ke-tomboy-annya membuatnya mudah dekat dengan lelaki. Tapi meski begitu, tak sedikit pula teman wanitanya.” ujar Andrea.
                “Ne…” Kris hanya berkata itu dan mengangguk karena dia sedang mengunyah makanannya.
                “Uuuhhhmmmm…. Kalau kau? Apa kesibukanmu saat ini?” tanya Kris pada Andrea setelah ia menelan makanannya.
                “Tidak ada.. Tapi, saat ini aku sedang menyukai mendengarkan cerita-cerita orang melalui majalah.”
                “Cerita? Majalah?” tanya Kris sedikit bingung.
                “Nee.. Aku dan Jessica mempunyai pekerjaan menjadi redaksi Majalah elektronik. Kami menerima berbagai cerita dari orang lain, dan mengepost cerita mereka yang bagus ke Majalah kami. Uhhhmm… Kalau kau punya cerita bagus, kau bisa mengirimkannya ke e-mail kami. Nanti akan ku sms-kan alamatnya ke nomormu.” ucap Andrea.
                “Memangnya kau tau nomorku?” ucap Kris sambil menaikkan sebelah alisnya.
                “Tidak.. Tapi aku bisa bertanya oppa-ku..”
                “Aaahhhh… Yeee…. Benar juga.” Kris mengangguk-angguk.
                “Lalu… kenapa kau bisa berteman dengan Chanyeol oppa dan Minho oppa?” tanya Andrea.
                “Dulu.. Kami satu sekolah. Bukankah dulu Chanyeol bersekolah di China?” ucap Kris.
                “Hhhhmmm… Ne… Chanyeol oppa, Minho oppa, dan Siwon oppa memang pernah bersekolah di China. Lalu, siapa Tao?”
                “Dia adik kelas kami. Saat itu, aku, oppa-mu, dan Minho, masih kelas 2 SMA. Siwon hyung kelas 3. Dan Tao kelas 1. Kami tinggal di apartemen yang sama. Aku dan Tao menempati apartemen yang berada di depan apartemen oppa-mu. Saat itu, oppa-mu, Minho, dan Siwon tinggal dalam satu apartemen. Tapi, kadang-kadang oppa-mu, Minho, atau Siwon juga menginap di apartemenku. Atau malah aku dan Tao yang menginap di apartemen oppa-mu. Yaaahhhh…. Kita berlima sangat dekat. Tapi setelah Siwon hyung lulus SMA dan meneruskan kuliahnya kembali ke Korea, kita jadi jarang bertemu. Dan setelah kita lulus, hanya tinggal aku dan Tao yang masih bersama. Oppa-mu meneruskan kuliahnya di Jepang, dan Minho meneruskan kuliahnya di Perancis. Aaaakkhhhh…. Tapi sekarang akhirnya kita bertemu lagi.” cerita Kris panjang lebar.
                “Uuhhhm, tidak juga. Tao belum bertemu Chanyeol oppa, Minho oppa, dan Siwon oppa. Oh.. yaa… Memangnya, ada urusan apa pula kau kembali ke Korea?”
                “Papa-ku sedang ada bisnis di Korea. Dan aku ikut membantunya di sini.” Ucap Kris.
                “Jadi kau juga sudah bekerja? Berarti tinggal Minho oppa saja yang masih kuliah. Oya, bagaimana dengan Tao?”
                “Dia juga masih kuliah. Masih ada 2 semester yang harus dia lalui.”
                “Tapi... Kenapa Minho oppa juga masih kuliah? Bukankah kalian berempat mengambil jurusan sama. Apakah hanya karena kalian kuliah di negara berbeda, juga mempengaruhi waktu kuliah kalian?” tanya Andrea polos.
                “Ya.. Kita memang mengambil jurusan yang sama. Tapi, awalnya Minho dan Tao mengambil jurusan di bidang visual dan entertainment. Tao masih di bidang itu sampai sekarang, tapi Minho, setelah dia kuliah di bidang itu selama 2 semester, dia berhenti dan mengulang, mengambil bidang management seperti aku, oppa-mu dan Siwon hyung.” Ucap Kris.
                “Oooohhhh…. Jadi begitu..” ucap Andrea sambil mengangguk-anggukkan kepalanya seakan mengerti penjelasan Kris. Dan Kris hanya tersenyum melihat tingkah gadis di hadapannya saat ini.
                “Yaaaa…. Kalian sudah lama di sini?” tanya Minho yang tiba-tiba datang.
                “Oh.. aniyo. Baru saja.” Ucap Andrea berbohong pada Minho.
                “Tidak. Kami sudah lama berada di sini.” Kris membenarkan ucapan Andrea. Andrea menatap tajam Kris dengan tatapan ‘apa yang baru saja kau lakukan?’. Dan Kris menatap Andrea dengan tatapan ‘kenapa kau menatapku seperti itu?’.
                “Ooohhh… Benarkah? Bolehkah aku bergabung?” ucap Minho.
                “Tentu..” ucap Andrea pada Minho.
                “Tadi kalian berbicara apa? Kenapa kalian terlihat asik?” tanya Minho.
                “Berbicara banyak hal.. Hhhhmm, kelasmu sudah selesai?” ucap Kris sedikit jutek.
                “Hhmm.. Yeee.. Kelasku hari ini sudah selesai. Euuung, Andrea.. Apakah setelah kuliah hari ini kau ada acara?” tanya Minho. Kris menatap Andrea penasaran dengan jawabannya.
                “Uuhhm, kelas terakhirku berakhir pukul 3. Setelah itu aku juga sudah tidak ada acara.” Jawab Andrea. Aaakkhhh… Kali ini Kris terlambat satu langkah. Seharusnya dia yang menanyakan itu dulu. Kris menggerutu dalam hati.
                “Kalau begitu, maukah kau hari ini jalan bersamaku?” tanya Minho to the point.
                “Yeee… Of course..” Andreane terlihat sangat senang. Dan Kris hanya mengerucutkan bibirnya.
                ----------
                “Aaahhhh… Lelah juga membaca cerita ini. Hhhmm… setidaknya mendengar cerita mereka membuat penatku sedikit hilang. Tapi, masih banyak e-mail yang belum aku baca. Ahhhh, biar Jessica saja yang meneruskannya. Aku sudah lelah..” Ucap Andreane sambil memainkan laptop di depannya.
                “Ah! Kris..” Andrea langsung melompat dari tempat tidurnya, dan berlari menuju kamar oppa-nya.
                “Opppaaaaaa!!!!!!”
                “Yaaa… Kau mengagetkanku saja.” Ucap Chanyeol yang sedang merapikan rambutnya di depan cermin.
                “Ah, mian oppa. Aku lupa mengetuk pintu.”
                “Yeyeye.. Ada apa?” ucap Chanyeol yang masih merapikan rambutnya.
                “Oppa, apa kau baru selesai mandi? Memangnya kau baru pulang? Bukankah kau pulang pukul 9?”
                “Hhhmm.. Ye, aku baru selesai mandi karena aku juga baru saja pulang. Tadi, aku sedang makan malam di luar bersama seseorang. Makanya aku baru pulang… Ya, ada apa kau berteriak mencariku?”
                “Ooohhh… Euuung, oppa. Apa aku boleh meminta nomor ponsel Kris?” ujar Andrea.
                “Tentu.. Sebentar..” Chanyeol mengambil ponselnya dan kemudian mencari nomor Kris.
                “Aahhh.. Ini dia..” Chanyeol memberikan ponselnya pada Andrea, lalu Andrea pun menyalin nomor Kris ke ponselnya.
                “Ya, memangnya sejak kapan kau menjadi dekat dengan Kris? Bukankah dulu kau benci kedatangannya, karena telah mengganggu acara makanmu?” goda Chanyeol.
                “Ah, sebelumnya aku pernah bertemu dengannya di kampus. Tapi aku lupa jika aku pernah bertemu dengannya. Tapi, hari ini kami bertemu di kampus lagi dengan kejadian yang sama dengan saat itu, makanya hari ini kami mengobrol sedikit banyak.” Ucap Andrea.
                “Ohhhh begitu. Jadi kalian sekarang sudah dekat? Jadi, sekarang kau mulai menyukai berada di dekatnya? Sampai-sampai kau meminta nomor ponselnya.” Chanyeol masih saja menggoda Andrea.
“Yaaa… Oppa ini kenapa sih. Aku sudah berjanji padanya akan memberitahu alamat e-mail Majalahku padanya oppa. Jadi, bukan karena apa-apa.” Andrea mengelak.
“Waw! Perkembangan kedekatan kalian pesat sekali. Bahkan dia mengetahui kalau kau redaksi Majalah elektronik. Hahahaha… Daebak.. daebak..” Chanyeol masih saja menggoda Andrea.
“Aarrgghhh… Terserah oppa mau berkata apa. Ini ponselmu oppa. Gomapta..” Andrea meletakkan ponsel Chanyeol di atas meja, kemudian berjalan keluar kamar Chanyeol dengan bibirnya yang mengerucut.
“Yaa… Andreane… Changkanman..” teriak Chanyeol.
“Waeee…” ucap Andreane sambil memegang gagang pintu, tanpa menolehkan kepalanya ke Chanyeol.
“Uhhmm.. Aku setuju jika kau dengan Kris. Aku sangat menyetujuinya.” nada bicara Chanyeol kali ini terdengar serius.
“Mworagu oppa?” tanya Andrea yang masih bingung dengan ucapan Chanyeol.
“Uuuhhhmmm, dia, Kris. Asal kau tau, dia berbeda dari lelaki lain. Dan aku percaya padamu, kau nantinya akan lebih memahami dirinya dari pada aku sahabatnya sendiri. Kau pasti akan menemukan dirinya yang sebenarnya suatu saat nanti…” ucapan Chanyeol tidak bisa dimengerti Andrea. Tapi Andrea yakin, setiap perkataan dari oppanya akan mengandung sesuatu yang berguna baginya. Andrea, masih mematung di depan pintu. Mencoba mencerna setiap kata dari ucapan Chanyeol.
“Ahhh.. sekarang cepat kembali ke kamarmu. Mungkin saat ini Kris menanti sms-mu.” Ucap Chanyeol sambil merapikan selimutnya.
“Ah, neee… Jaljayo oppa.. Saranghae..” ucap Andrea sambil menutup pintu.
“Yeee.. Nado..” balas Chanyeol.
-----------
“Apa yang sebenarnya oppa maksud? Kenapa tiba-tiba dia berkata seperti itu? Aaahhh… Mollayo..” Andrea bergegas kembali ke kamarnya.
“Oh, Kris. Aku lupa.. Aaarrgghhh… Ini gara-gara kau. Gara-gara kau Chanyeol oppa menjadi berbicara yang tidak jelas, yang tak ku tau apa maksudnya. Aaakkhhh…” Andrea mengeluarkan ponselnya dan mengetik sms pada Kris.

                Apa kau sudah tidur? Maaf baru mengirimimu pesan. ~Andrea~

                Oh, kau kemana saja? Kenapa baru mengirim pesan?

                Ahh.. Mianhae.. Aku tadi sedang mengedit beberapa surat dari pembaca, untuk di post di Majalah. Memangnya, kau menunggu sms dariku yaaa? Ayooo… Mengaku sajalahhh..

                Yeyeye… Aku memang menunggu sms dari mu seharian ini. Bagaimana date mu dengan Minho?

                “Kenapa dia malah bertanya itu? Aaakkhh…” ucap Andrea.

                Uuuhhhm, itu rahasia.. :P Euuung, oya. Ini alamat e-mail yang sudah aku janjikan padamu hari ini. (xxxxxxxxxxx) Uhm, kau juga bisa membuka web Majalah-nya (www.xxx-xxxx-xxx.com) ^^

                Setelah Andrea mengirim pesan itu, Kris tidak membalasnya.
                “Aaahhh… Apa dia sudah tidur? Memangnya, ini sudah jam berapa?” Andrea melihat jam di kamarnya.
                “Omona… Sudah jam 12.30. Pantas dia tak membalasnya. Ahhh, mungkin dia sudah ketiduran. Hhhhmmm… Ya sudahlah. Bukankah dia besok akan membantu papa-nya di kantor. Euuung, gwenchana.. Kalau begitu aku juga lekas tidur.” ucap Andrea yang berusaha meyakinkan hatinya untuk tidak menunggu sms balasan dari Kris. Tapi jika nanti Kris membalas pesannya, sedangkan dia sudah tidur, kasian juga Kris. Aaaakkhhh, sudahlah. Ini sudah malam, dia pasti juga sudah tidur. Andrea masih berusaha meyakinkan hatinya untuk tidak menunggu sms balasan dari Kris.
                Bling.. bling.. bling..
                Ponsel Andrea berbunyi, tanda ada satu pesan masuk.

                Aahhhh… Aku baru saja mengirimkan ceritaku melalui e-mail. Aku juga sudah membuka web-nya. Kau!!! Daebak.. Aku menyukai web-mu. Mulai sekarang, aku akan menjadi pembaca setia di Majalahmu. ^^

                “Yaaa… jadi dia belum tidur. Jadi dia tadi sedang mengirim ceritanya. Aaarrghhh… Menyebalkan. Seharusnya dia bilang dulu kalau ingin mengirim ceritanya. Aku jadi tidak bingung seperti tadi. Haaaa… Rasakan sekarang. Saat ini, giliranku balas dendam. Selamat menanti balasan pesanku. Karena aku ingin melihat ceritamu dulu. Wkwkwkwk… Memangnya, sebagus apakah ceritamu?” Andrea berbicara sendiri dengan ponselnya. Seakan ponsel yang sedang digenggamnya saat ini adalah Kris.
                Andrea pun membuka laptopnya dan membuka e-mail masuk di e-mailnya. Tapi, kenapa tidak ada yang bernama Kris? Aaaarrgghhh… Sebenarnya, Kris sudah mengirim e-mail atau belum? Kenapa tidak ada e-mail masuk dari orang yang bernama Kris?
                “Aaaakkhhh… Apa dia sengaja mengerjaiku. Sebenarnya, apa nama ID-nya?” Andrea kembali meneliti setiap e-mail masuk yang ada. Euuung, ada satu nama yang asing baginya. ‘Wu Yi Fan’. Uuhhm, sepertinya pemilik e-mail ini bukan orang Korea. Andrea belum pernah mengetahui ada orang Korea yang bernama Wu Yi Fan. ID-nya juga tidak ditulis menggunakan Hangul. Aaakhhh… Akhirnya Andrea membuka e-mail dengan ID ‘Wu Yi Fan’ tersebut.

                Salam kenal dari-ku, Wu Yi Fan.
                Aku pembaca baru di Majalah ini. Tapi, aku akan menjadi pembaca setia mulai dari sekarang.^^ Ini adalah pertama kalinya aku berbagi cerita melalui Majalah elektronik. Jadi, maaf bila ceritaku tak menghibur kalian. Baiklah langsung saja…
Cerita itu berawal ketika aku baru datang dari China untuk kembali ke Korea. Saat itu, aku sedang bad mood karena aku baru saja ditelfon papa-ku untuk ikut dengannya ke Korea. Aku ditugaskan papa-ku untuk membantu pekerjaannya di Korea. Bukannya aku membenci Korea. Tapi, aku pernah mempunyai kenangan buruk dengan seseorang di Korea. Yahhh… Tak perlu kuceritakan masalah ini. Yang ingin aku ceritakan adalah, Korea seakan bukan kenangan buruk lagi bagiku, setelah aku bertemu dengan seorang gadis. Ya… Dia berhasil membuatku merubah pandanganku tentang Korea selama ini.
Jadi, awal pertemuan kami adalah di salah satu restoran di kawasan Seoul. Saat itu aku sedang pergi seorang diri untuk minum dan mencoba menghilangkan bad mood-ku. Tapi bad mood-ku tak kunjung reda, hingga akhirnya aku melihat seorang gadis dengan wajahnya yang manis. Euuung, ya.. Itu pendapatku saat pertama kali melihatnya. Semoga, dia tidak besar kepala bila mendengar pujianku kali ini.
Gadis itu sedang menyanyi di atas panggung. Yaa… tempat yang kudatangi saat itu memang memiliki panggung di sebelah kanan bar. Aku yang  saat itu duduk seorang diri di bar, merasa jarak kami begitu dekat. Aku… menjadi leluasa melihatnya.
Saat dia mulai bernyanyi, suara gadis ituuu… Kenapa hatiku seperti ini mendengar suaranya? Kuperhatikan gadis itu saat bernyanyi. Suaranya biasa saja, tapi kenapa... Yeah, memang suaranya bagus, tapi suaranya tidak seindah milik Celine Dion atau penyanyi yang lain. Suara Zhang Liyin lebih indah dari suaranya, menurutku… Tapi, kenapa seakan-akan mendengarnya bernyanyi seperti ada kenikmatan tersendiri. Aaaakkkhhh…. aku seakan terhipnotis dengan suaranya. Mataku seakan terkunci, hanya melihat pada dirinya. Tapi, pertemuan kami saat itu terlalu singkat. Setelah dia selesai bernyanyi, dia kembali ke mejanya bersama teman-temannya. Aaakkhhh… jika sudah seperti ini, aku tak berani memandangnya lagi. Bisa-bisa aku nanti di kira pemuda mesum, karena terus-terusan memandangnya. Hahahaha…

“Hahahaha… Jadi… Kau juga lelaki di bar saat itu? Aaaakkhhh… Bagaimana kau masih mengingat semua itu?” ucap Andrea. Kemuadian ia melanjutkan membaca e-mail itu.

Tapi, ternyata seakan Tuhan mendengar isi hatiku. Suatu hari, di saat aku berencana untuk menemui sahabat lamaku di Universitas tempatnya belajar, aku bertemu lagi dengannya. Yaa… saat itu, aku dan teman-temanku sedang bermain basket. Dan di saat sedang asik bermain basket, tiba-tiba saja tembakanku meleset dan berhasil memecahkan sebuah pot. Ooohhh… awalnya kukira nasibku hari itu sedang sial. Tapi ternyata sebaliknya.
Saat itu, aku ingin mengambil bola basketku dan bermaksud mempertanggung jawabkan perbuatanku. Saat itu, bolaku terlempar hingga ke lantai dua. Jadi aku harus ke sana untuk mengambilnya. Dan setelah aku tiba di sana, aku melihat seorang gadis memegang bolaku. Sepertinya dia juga sedang kebingungan mencari pemilik bola itu… Aku bilang padanya untuk mengambil bolaku kembali. Ternyata, gadis itu adalah gadis yang sama dengan yang kutemui saat di bar. Setelah itu aku kembali ke lapangan, dan kuberikan bolaku ke teman-temanku. Biarkan mereka melanjutkan bermain dulu tanpaku. Aku belum selesai dengan urusanku. Setelah itu aku kembali ke lantai dua, gadis itu masih di sana. Ooohh… syukurlah dia belum pergi. Aku bertanya padanya, apakah dia baik-baik saja. Mungkin saja, saat bolaku mengenai pot tadi, dia terkena atau malah terluka. Tapi syukur, dia bilang kalau dia baik-baik saja. Kemudian, dia mengingatkanku pada kejadian pot pecah. Ooohhh… yeyeye.. aku pasti membersihkannya. Aku pun berjongkok untuk membersihkan pecahan pot itu. Tapi, gadis itu ikut berjongkok dan membantuku membersihkan pecahan potnya. Aku bilang padanya untuk tidak usah membantuku. Tapi dia memaksa, oohhh… baiklah. Aku juga tidak menolak. ^^

“Hey.. bukan memaksa. Tapi aku kasian melihatmu dibegitukan temanmu. Aaaakhhh… kau terlalu besar kepala, Kris.” Andreane tertawa sendiri membaca cerita Kris.

Setelah pekerjaan membersihkan pecahan pot itu selesai, aku melihat tangan lentiknya kotor karena terkena tanah saat membersihkan tadi. Aku mengambil sapu tanganku dan kuberikan padanya. Tapi dia menolak, dia bilang kalau dia sudah mempunyai sapu tangan sendiri. Akhirnya dia mencari sapu tangannya di tasnya. Sepertinya sapu tangannya tidak di sana, karena dia juga mencari di sakunya. Uhhhm, sepertinya dia tidak membawa sapu tangannya. Aku ulurkan kembali sapu tanganku padanya. Akhirnya dia menerimanya. Dia meminta maaf padaku karena katanya, dia telah mengotori sapu tanganku. Ahhh… justru sebaliknya, aku seharusnya berterimakasih padanya, karena telah membantuku membersihkan pecahan pot tadi. Kemudian, aku bertanya padanya, siapakah namanya. Dan saat dia ingin menjawabnya, seorang temannya memanggilnya. Yahhh… meski bukan dia sendiri yang menjawab pertanyaanku, setidaknya, setelah temannya itu memanggil namanya, aku jadi tau siapakah namanya. Aaaarrrgghhh... Sayangnya, setelah temannya memanggilnya, dia buru-buru pergi. Dan kami belum sempat berbicara banyak. Tapi, setidaknya ada kemajuan.
Dan memang, Tuhan sepertinya berpihak padaku. Sejak pertemuan terakhir kita saat itu, aku bertemu lagi dengannya untuk yang ketiga kalinya. Saat itu, aku berencana makan malam bersama teman lamaku. Kami bertemu di restaurant XXX, saat itu dia datang bersama teman lamaku. Awalnya kukira dia adalah pacar temanku, tetapi aku salah, ternyata dia adalah adik temanku. Aaarrgghhh.. lagi-lagi aku beruntung. Setelah pertemuan kita yang ketiga itu, untuk pertemuan selanjutnya, aku tidak akan menyia-nyiakannya begitu saja. Yaaa… aku tidak akan menyia-nyiakannya begitu saja.
Aaaarrgghhhh… akhirnya selesai juga ceritaku ini. Maaf jika ceritaku tidak terlalu menarik. Karena ini adalah pertama kalinya aku menulis cerita, dan berbagi melalui Majalah. Aaakkhhh… aku juga lelah mengetiknya. Tapi semoga kalian tidak lelah membacanya.
Gomawo sudah mendengar ceritaku.
Sampai jumpa di ceritaku yang lain.. Wo aini.. ^^

“Aaaakkkhhh… Kris.. Harus bagaimana aku? Aku malu..” Andrea tersenyum dan tertawa sendiri karena membaca e-mail dari Kris. 
Dia juga bingung harus bagaimana. Dia benar-benar malu saat ini. Dia tak menyangka Kris juga suka bertemu dengannya. Diambilnya ponselnya, kemudian mengetik pesan pada Kris.

Kris, kau sudah tidur? Aaarrgghhh… kau tak perlu membalasnya jika sudah tidur. Ceritamu.. Aaakkhhh… aku tak tau harus berkata apa. Euuung, maaf telah membuatmu terpesona padaku. Wkwkwkwk.. ^^

“Yaaa.. kenapa aku mengirim pesan seperti itu padanya. Aahhh.. pabo! Jika Kris mengira kau besar kepala bagaimana? Iya jika Kris memang terpesona padamu. Jika tidak, matilah kau Andreaaa….” Andrea mengutuk dirinya sendiri. Karena dengan PD-nya dia mengirim pesan seperti itu pada Kris.

Hahahaha… Aku belum tidur... :-) Bagaimana bisa kau se-PD itu Andrea? :o Wkwkwkwkwk ^^ Hhhmm.. tapi aku senang bisa bertemu dengan gadis sepertimu. Gomawo.. :-)

Ha? Gomawo? :o Untuk apa? O.O

Karena kau telah hadir di hidupku.. :-)

....... ^^ ..... :-)

-----------