korean sky

korean sky

Rabu, 30 Mei 2012

[Part 3] Cherry Blossom Love


Author : Jung Yerin (Moza D.A.)
Genre : Friendship, Familyship, Romantic
Rating : Remaja
Main Cast :
-Seo Joo Hyun as Andreane Park

-Wu Yi Fan as Wu Yi Fan (Kris)

-Choi Minho as Choi Minho

Other Cast : Find by yourself
PART 3
               Keesokan harinya saat Andreane sedang kuliah, ia berjalan di koridor ‘kecelakaan bola basket’ itu lagi. Tiba-tiba ia merasa ada yang mengganjal, dia merasa ada sesuatu yang sempat ia lupakan namun ia ingat lagi. Tapi ‘sesuatu’ itu tidak bisa ia ingat lagi. Ia nikmati berjalan di koridor itu, ia melangkahkan kakinya pelan-pelan, sambil mengingat-ingat ‘sesuatu’ yang ia lupakan tadi.
                Andrea melirik ke bawah, ingin melihat pohon sakura yang ada di bawah sana. Mungkin dengan begitu, bisa membantunya mengingat ‘sesuatu’ itu. Tapi saat ia menengok ke bawah, yang dilihatnya adalah lapangan basket yang dipenuhi begitu banyak kepala manusia. Aaakkhhh, lapangan basket? Andrea seperti mendapatkan sedikit cahaya menuju ke ingatan ‘sesuatu’ yang sempat ia lupakan.
              “Andreaaa!!!” Jessica memanggil Andrea dari kejauhan. Membuyarkan konsentrasinya mengingat-ingat ‘sesuatu’.
                “Mwo? Ada apa?” tanya Andrea setelah jarak mereka dekat.
                “Ikut aku sekarang!” Jessica langsung menarik tangan Andrea. Andrea pun hanya menurut saja, akan kemanakah ia dibawa.
                Setelah mereka berdua –Jessica & Andrea, berlari-lari. Akhirnya sampailah mereka di lapangan basket. Lapangan basket? Andrea bingung. Ada apa Jessica mengajaknya ke sini? Ia menatap Jessica dengan tatapan ‘kenapa kau mengajakku ke sini?’. Dan Jessica pun menunjuk sesuatu… uhhhm… lebih tepatnya seseorang.
                Minho. Ya, Minho-lah yang ditunjuk Jessica. Andrea mengamati Minho yang sedang bermain basket. Aaaarrrggghhh……. Kenapa dia harus melihat Minho seperti ini lagi. Sudah sekian lama Andrea mencoba melupakan pria itu, namun ia tak bisa. Akhirnya ia menyerah, dan membiarkan perasaan itu tinggal di hatinya. 
               Tapi…. Andrea juga melihat Kris. Ooohhhh…. Kris. Kenapa Andrea seakan teringat dengan pekerjaannya mengingat-ingat ‘sesuatu’ lagi? Andrea juga seperti mendapat cahaya lebih terang menuju ke ingatannya tentang ‘sesuatu’ itu.
                Braaakkkk…. Praaaaang….
                Kris menembakkan bola ke keranjang, namun tidak tepat sasaran. Hingga bolanya memantul ke tempat lain. Saking kerasnya, bolanya mengenai pot bunga yang digantung hingga potnya pecah. Aakhhh, akhirnya Andreane mengingat semuanya. Ia telah kembali ke ingatannya tentang ‘sesuatu’ itu.
                “Aaarrgghhhh….. Lagi-lagi kau itu Kris! Kau sendiri yang harus mempertanggung jawabkannya. Cepat ambil bolanya.” Ucap salah satu dari mereka yang bermain basket bersama Minho dan Kris. Hey, ada apa ini? Memang benar Kris yang memecahkan potnya, tapi kenapa mereka tidak ikut bertanggung jawab. Aaaakkkhhh, kenapa pula Kris hanya mengangguk menanggapinya. Andreane marah dalam hatinya sendiri.
                Kris berlari menuju pot yang telah dipecahkannya tadi. Dia mengambil bolanya dan kembali lagi ke lapangan, dia lempar bola itu ke orang yang telah menyuruhnya tadi. Setelah itu dia berlari menuju pot tadi, bermaksud ingin membersihkannya. Tapi setelah berada dalam jarak 5 meter dari pot itu, Kris hanya berdiri mematung sambil mengatur nafasnya karena berlari tadi. Kenapa gadis itu tak datang membantunya lagi. Aaaarrgghhhh…. Pekerjaan ini akan terasa berat tanpanya. Batin Kris. Kris pun berjongkok membersihkan pecahan pot yang telah ia pecahkan.
                Trap.. trap.. trap..
                Langkah kaki Andrea yang mendekati Kris tidak terlalu jelas saking ramainya tempat itu.
                Kris yang sedang berjongkok, melihat sepasang kaki jenjang berdiri di depannya. Kris pun mendongakkan kepalanya, mencari tau siapakah pemilik kaki jenjang itu. Andreane… Dia tersenyum padanya dan berhasil membuat hatinya girang. Hati Kris seakan bersorak melihat kedatangan Andrea. Akhirnya kau datang juga, ucapnya pada Andreane dalam hati.
                “Jadi, kau lelaki yang sama dengat saat itu?” ucap Andrea diikuti senyum malaikatnya.
                “Ne… Dan kau gadis yang sama dengan saat itu.” Kris pun tersenyum pada Andrea. Andrea pun ikut berjongkok dan membantu Kris membersihkan pecahan pot tadi.
                “Maaf, telah melupakanmu.” ucap Andreane di tengah-tengah kesibukan mereka membersihkan.
                “Maksudmu?” tanya Kris.
                “Maaf karena aku lupa pernah bertemu denganmu. Aku… melupakanmu begitu saja..” ucap Andrea.
                “Ooohhh itu… Gwenchana.. Tidak penting juga untuk diingat.” Andrea tersenyum mendengar perkataan Kris. Aaahhhh… berada di dekat lelaki ini membuat hatinya senang.
                ----------
                “Yogi.. Kau pasti membutuhkannya.” Ucap Andrea sambil mengulurkan sapu tangan pada Kris.
                “Uhm.. Ini milikku..” ucap Kris sambil tersenyum.
                “Neee… Mian, aku lupa mengembalikannya padamu.” Ucap Andrea.
                “Hhhm.. Gwenchana.” Kris menerima sapu tangannya dan memasukkannya ke saku celananya. Andrea hanya melihat tingkah Kris dengan bingung. Kenapa tidak ia gunakan untuk membersihkan tangannya? Kris mengambil sapu tangan miliknya yang lain, dan diulurkannya pada Andrea.
                “Oohhh… Ani.. Kali ini aku membawa milikku. Gomawo..” ucap Andrea pada Kris. Okey, Kris menyerah. Dia pun menggunakan sapu tangan itu untuk membersihkan tangannya sendiri. Andrea pun melakukan hal yang sama.
                “Uuuhhhmmm.. Kau sudah makan siang?” Kris bertanya pada Andrea.
                “Hhhm.. Belum.”
                “Kalau begitu. Kau mau makan bersamaku?”
                “Euung.. Ne, tentu.”
                ----------
                “Jadi, kau tidak sedang kuliah? Lalu, untuk apa kau ke SOPA?” tanya Andrea sambil menusukkan garpunya ke samgyeopsolnya.
                “Aku ingin menemui temanku, Amber. Dan kebetulan, aku bertemu dengan teman-teman klub basketku dulu.” ucap Kris.
                “Amber? Gadis tomboy itu temanmu? Waw!”
                “Uhm.. Kau mengenalnya?” tanya Kris pada Andrea sambil menelan makanannya.
                “Tentu. Dia adalah Sekretaris OSIS di sekolahku dulu..” jawab Andrea.
                “Hhhhmm.. Yeee.. Meski bahasa Korea-nya sedikit kacau, tapi Amber tipe orang yang ramah. Jadi, banyak yang dekat dengannya.” Ucap Kris.
                “Hhhmm.. Ne.. Ke-tomboy-annya membuatnya mudah dekat dengan lelaki. Tapi meski begitu, tak sedikit pula teman wanitanya.” ujar Andrea.
                “Ne…” Kris hanya berkata itu dan mengangguk karena dia sedang mengunyah makanannya.
                “Uuuhhhmmmm…. Kalau kau? Apa kesibukanmu saat ini?” tanya Kris pada Andrea setelah ia menelan makanannya.
                “Tidak ada.. Tapi, saat ini aku sedang menyukai mendengarkan cerita-cerita orang melalui majalah.”
                “Cerita? Majalah?” tanya Kris sedikit bingung.
                “Nee.. Aku dan Jessica mempunyai pekerjaan menjadi redaksi Majalah elektronik. Kami menerima berbagai cerita dari orang lain, dan mengepost cerita mereka yang bagus ke Majalah kami. Uhhhmm… Kalau kau punya cerita bagus, kau bisa mengirimkannya ke e-mail kami. Nanti akan ku sms-kan alamatnya ke nomormu.” ucap Andrea.
                “Memangnya kau tau nomorku?” ucap Kris sambil menaikkan sebelah alisnya.
                “Tidak.. Tapi aku bisa bertanya oppa-ku..”
                “Aaahhhh… Yeee…. Benar juga.” Kris mengangguk-angguk.
                “Lalu… kenapa kau bisa berteman dengan Chanyeol oppa dan Minho oppa?” tanya Andrea.
                “Dulu.. Kami satu sekolah. Bukankah dulu Chanyeol bersekolah di China?” ucap Kris.
                “Hhhhmmm… Ne… Chanyeol oppa, Minho oppa, dan Siwon oppa memang pernah bersekolah di China. Lalu, siapa Tao?”
                “Dia adik kelas kami. Saat itu, aku, oppa-mu, dan Minho, masih kelas 2 SMA. Siwon hyung kelas 3. Dan Tao kelas 1. Kami tinggal di apartemen yang sama. Aku dan Tao menempati apartemen yang berada di depan apartemen oppa-mu. Saat itu, oppa-mu, Minho, dan Siwon tinggal dalam satu apartemen. Tapi, kadang-kadang oppa-mu, Minho, atau Siwon juga menginap di apartemenku. Atau malah aku dan Tao yang menginap di apartemen oppa-mu. Yaaahhhh…. Kita berlima sangat dekat. Tapi setelah Siwon hyung lulus SMA dan meneruskan kuliahnya kembali ke Korea, kita jadi jarang bertemu. Dan setelah kita lulus, hanya tinggal aku dan Tao yang masih bersama. Oppa-mu meneruskan kuliahnya di Jepang, dan Minho meneruskan kuliahnya di Perancis. Aaaakkhhhh…. Tapi sekarang akhirnya kita bertemu lagi.” cerita Kris panjang lebar.
                “Uuhhhm, tidak juga. Tao belum bertemu Chanyeol oppa, Minho oppa, dan Siwon oppa. Oh.. yaa… Memangnya, ada urusan apa pula kau kembali ke Korea?”
                “Papa-ku sedang ada bisnis di Korea. Dan aku ikut membantunya di sini.” Ucap Kris.
                “Jadi kau juga sudah bekerja? Berarti tinggal Minho oppa saja yang masih kuliah. Oya, bagaimana dengan Tao?”
                “Dia juga masih kuliah. Masih ada 2 semester yang harus dia lalui.”
                “Tapi... Kenapa Minho oppa juga masih kuliah? Bukankah kalian berempat mengambil jurusan sama. Apakah hanya karena kalian kuliah di negara berbeda, juga mempengaruhi waktu kuliah kalian?” tanya Andrea polos.
                “Ya.. Kita memang mengambil jurusan yang sama. Tapi, awalnya Minho dan Tao mengambil jurusan di bidang visual dan entertainment. Tao masih di bidang itu sampai sekarang, tapi Minho, setelah dia kuliah di bidang itu selama 2 semester, dia berhenti dan mengulang, mengambil bidang management seperti aku, oppa-mu dan Siwon hyung.” Ucap Kris.
                “Oooohhhh…. Jadi begitu..” ucap Andrea sambil mengangguk-anggukkan kepalanya seakan mengerti penjelasan Kris. Dan Kris hanya tersenyum melihat tingkah gadis di hadapannya saat ini.
                “Yaaaa…. Kalian sudah lama di sini?” tanya Minho yang tiba-tiba datang.
                “Oh.. aniyo. Baru saja.” Ucap Andrea berbohong pada Minho.
                “Tidak. Kami sudah lama berada di sini.” Kris membenarkan ucapan Andrea. Andrea menatap tajam Kris dengan tatapan ‘apa yang baru saja kau lakukan?’. Dan Kris menatap Andrea dengan tatapan ‘kenapa kau menatapku seperti itu?’.
                “Ooohhh… Benarkah? Bolehkah aku bergabung?” ucap Minho.
                “Tentu..” ucap Andrea pada Minho.
                “Tadi kalian berbicara apa? Kenapa kalian terlihat asik?” tanya Minho.
                “Berbicara banyak hal.. Hhhhmm, kelasmu sudah selesai?” ucap Kris sedikit jutek.
                “Hhmm.. Yeee.. Kelasku hari ini sudah selesai. Euuung, Andrea.. Apakah setelah kuliah hari ini kau ada acara?” tanya Minho. Kris menatap Andrea penasaran dengan jawabannya.
                “Uuhhm, kelas terakhirku berakhir pukul 3. Setelah itu aku juga sudah tidak ada acara.” Jawab Andrea. Aaakkhhh… Kali ini Kris terlambat satu langkah. Seharusnya dia yang menanyakan itu dulu. Kris menggerutu dalam hati.
                “Kalau begitu, maukah kau hari ini jalan bersamaku?” tanya Minho to the point.
                “Yeee… Of course..” Andreane terlihat sangat senang. Dan Kris hanya mengerucutkan bibirnya.
                ----------
                “Aaahhhh… Lelah juga membaca cerita ini. Hhhmm… setidaknya mendengar cerita mereka membuat penatku sedikit hilang. Tapi, masih banyak e-mail yang belum aku baca. Ahhhh, biar Jessica saja yang meneruskannya. Aku sudah lelah..” Ucap Andreane sambil memainkan laptop di depannya.
                “Ah! Kris..” Andrea langsung melompat dari tempat tidurnya, dan berlari menuju kamar oppa-nya.
                “Opppaaaaaa!!!!!!”
                “Yaaa… Kau mengagetkanku saja.” Ucap Chanyeol yang sedang merapikan rambutnya di depan cermin.
                “Ah, mian oppa. Aku lupa mengetuk pintu.”
                “Yeyeye.. Ada apa?” ucap Chanyeol yang masih merapikan rambutnya.
                “Oppa, apa kau baru selesai mandi? Memangnya kau baru pulang? Bukankah kau pulang pukul 9?”
                “Hhhmm.. Ye, aku baru selesai mandi karena aku juga baru saja pulang. Tadi, aku sedang makan malam di luar bersama seseorang. Makanya aku baru pulang… Ya, ada apa kau berteriak mencariku?”
                “Ooohhh… Euuung, oppa. Apa aku boleh meminta nomor ponsel Kris?” ujar Andrea.
                “Tentu.. Sebentar..” Chanyeol mengambil ponselnya dan kemudian mencari nomor Kris.
                “Aahhh.. Ini dia..” Chanyeol memberikan ponselnya pada Andrea, lalu Andrea pun menyalin nomor Kris ke ponselnya.
                “Ya, memangnya sejak kapan kau menjadi dekat dengan Kris? Bukankah dulu kau benci kedatangannya, karena telah mengganggu acara makanmu?” goda Chanyeol.
                “Ah, sebelumnya aku pernah bertemu dengannya di kampus. Tapi aku lupa jika aku pernah bertemu dengannya. Tapi, hari ini kami bertemu di kampus lagi dengan kejadian yang sama dengan saat itu, makanya hari ini kami mengobrol sedikit banyak.” Ucap Andrea.
                “Ohhhh begitu. Jadi kalian sekarang sudah dekat? Jadi, sekarang kau mulai menyukai berada di dekatnya? Sampai-sampai kau meminta nomor ponselnya.” Chanyeol masih saja menggoda Andrea.
“Yaaa… Oppa ini kenapa sih. Aku sudah berjanji padanya akan memberitahu alamat e-mail Majalahku padanya oppa. Jadi, bukan karena apa-apa.” Andrea mengelak.
“Waw! Perkembangan kedekatan kalian pesat sekali. Bahkan dia mengetahui kalau kau redaksi Majalah elektronik. Hahahaha… Daebak.. daebak..” Chanyeol masih saja menggoda Andrea.
“Aarrgghhh… Terserah oppa mau berkata apa. Ini ponselmu oppa. Gomapta..” Andrea meletakkan ponsel Chanyeol di atas meja, kemudian berjalan keluar kamar Chanyeol dengan bibirnya yang mengerucut.
“Yaa… Andreane… Changkanman..” teriak Chanyeol.
“Waeee…” ucap Andreane sambil memegang gagang pintu, tanpa menolehkan kepalanya ke Chanyeol.
“Uhhmm.. Aku setuju jika kau dengan Kris. Aku sangat menyetujuinya.” nada bicara Chanyeol kali ini terdengar serius.
“Mworagu oppa?” tanya Andrea yang masih bingung dengan ucapan Chanyeol.
“Uuuhhhmmm, dia, Kris. Asal kau tau, dia berbeda dari lelaki lain. Dan aku percaya padamu, kau nantinya akan lebih memahami dirinya dari pada aku sahabatnya sendiri. Kau pasti akan menemukan dirinya yang sebenarnya suatu saat nanti…” ucapan Chanyeol tidak bisa dimengerti Andrea. Tapi Andrea yakin, setiap perkataan dari oppanya akan mengandung sesuatu yang berguna baginya. Andrea, masih mematung di depan pintu. Mencoba mencerna setiap kata dari ucapan Chanyeol.
“Ahhh.. sekarang cepat kembali ke kamarmu. Mungkin saat ini Kris menanti sms-mu.” Ucap Chanyeol sambil merapikan selimutnya.
“Ah, neee… Jaljayo oppa.. Saranghae..” ucap Andrea sambil menutup pintu.
“Yeee.. Nado..” balas Chanyeol.
-----------
“Apa yang sebenarnya oppa maksud? Kenapa tiba-tiba dia berkata seperti itu? Aaahhh… Mollayo..” Andrea bergegas kembali ke kamarnya.
“Oh, Kris. Aku lupa.. Aaarrgghhh… Ini gara-gara kau. Gara-gara kau Chanyeol oppa menjadi berbicara yang tidak jelas, yang tak ku tau apa maksudnya. Aaakkhhh…” Andrea mengeluarkan ponselnya dan mengetik sms pada Kris.

                Apa kau sudah tidur? Maaf baru mengirimimu pesan. ~Andrea~

                Oh, kau kemana saja? Kenapa baru mengirim pesan?

                Ahh.. Mianhae.. Aku tadi sedang mengedit beberapa surat dari pembaca, untuk di post di Majalah. Memangnya, kau menunggu sms dariku yaaa? Ayooo… Mengaku sajalahhh..

                Yeyeye… Aku memang menunggu sms dari mu seharian ini. Bagaimana date mu dengan Minho?

                “Kenapa dia malah bertanya itu? Aaakkhh…” ucap Andrea.

                Uuuhhhm, itu rahasia.. :P Euuung, oya. Ini alamat e-mail yang sudah aku janjikan padamu hari ini. (xxxxxxxxxxx) Uhm, kau juga bisa membuka web Majalah-nya (www.xxx-xxxx-xxx.com) ^^

                Setelah Andrea mengirim pesan itu, Kris tidak membalasnya.
                “Aaahhh… Apa dia sudah tidur? Memangnya, ini sudah jam berapa?” Andrea melihat jam di kamarnya.
                “Omona… Sudah jam 12.30. Pantas dia tak membalasnya. Ahhh, mungkin dia sudah ketiduran. Hhhhmmm… Ya sudahlah. Bukankah dia besok akan membantu papa-nya di kantor. Euuung, gwenchana.. Kalau begitu aku juga lekas tidur.” ucap Andrea yang berusaha meyakinkan hatinya untuk tidak menunggu sms balasan dari Kris. Tapi jika nanti Kris membalas pesannya, sedangkan dia sudah tidur, kasian juga Kris. Aaaakkhhh, sudahlah. Ini sudah malam, dia pasti juga sudah tidur. Andrea masih berusaha meyakinkan hatinya untuk tidak menunggu sms balasan dari Kris.
                Bling.. bling.. bling..
                Ponsel Andrea berbunyi, tanda ada satu pesan masuk.

                Aahhhh… Aku baru saja mengirimkan ceritaku melalui e-mail. Aku juga sudah membuka web-nya. Kau!!! Daebak.. Aku menyukai web-mu. Mulai sekarang, aku akan menjadi pembaca setia di Majalahmu. ^^

                “Yaaa… jadi dia belum tidur. Jadi dia tadi sedang mengirim ceritanya. Aaarrghhh… Menyebalkan. Seharusnya dia bilang dulu kalau ingin mengirim ceritanya. Aku jadi tidak bingung seperti tadi. Haaaa… Rasakan sekarang. Saat ini, giliranku balas dendam. Selamat menanti balasan pesanku. Karena aku ingin melihat ceritamu dulu. Wkwkwkwk… Memangnya, sebagus apakah ceritamu?” Andrea berbicara sendiri dengan ponselnya. Seakan ponsel yang sedang digenggamnya saat ini adalah Kris.
                Andrea pun membuka laptopnya dan membuka e-mail masuk di e-mailnya. Tapi, kenapa tidak ada yang bernama Kris? Aaaarrgghhh… Sebenarnya, Kris sudah mengirim e-mail atau belum? Kenapa tidak ada e-mail masuk dari orang yang bernama Kris?
                “Aaaakkhhh… Apa dia sengaja mengerjaiku. Sebenarnya, apa nama ID-nya?” Andrea kembali meneliti setiap e-mail masuk yang ada. Euuung, ada satu nama yang asing baginya. ‘Wu Yi Fan’. Uuhhm, sepertinya pemilik e-mail ini bukan orang Korea. Andrea belum pernah mengetahui ada orang Korea yang bernama Wu Yi Fan. ID-nya juga tidak ditulis menggunakan Hangul. Aaakhhh… Akhirnya Andrea membuka e-mail dengan ID ‘Wu Yi Fan’ tersebut.

                Salam kenal dari-ku, Wu Yi Fan.
                Aku pembaca baru di Majalah ini. Tapi, aku akan menjadi pembaca setia mulai dari sekarang.^^ Ini adalah pertama kalinya aku berbagi cerita melalui Majalah elektronik. Jadi, maaf bila ceritaku tak menghibur kalian. Baiklah langsung saja…
Cerita itu berawal ketika aku baru datang dari China untuk kembali ke Korea. Saat itu, aku sedang bad mood karena aku baru saja ditelfon papa-ku untuk ikut dengannya ke Korea. Aku ditugaskan papa-ku untuk membantu pekerjaannya di Korea. Bukannya aku membenci Korea. Tapi, aku pernah mempunyai kenangan buruk dengan seseorang di Korea. Yahhh… Tak perlu kuceritakan masalah ini. Yang ingin aku ceritakan adalah, Korea seakan bukan kenangan buruk lagi bagiku, setelah aku bertemu dengan seorang gadis. Ya… Dia berhasil membuatku merubah pandanganku tentang Korea selama ini.
Jadi, awal pertemuan kami adalah di salah satu restoran di kawasan Seoul. Saat itu aku sedang pergi seorang diri untuk minum dan mencoba menghilangkan bad mood-ku. Tapi bad mood-ku tak kunjung reda, hingga akhirnya aku melihat seorang gadis dengan wajahnya yang manis. Euuung, ya.. Itu pendapatku saat pertama kali melihatnya. Semoga, dia tidak besar kepala bila mendengar pujianku kali ini.
Gadis itu sedang menyanyi di atas panggung. Yaa… tempat yang kudatangi saat itu memang memiliki panggung di sebelah kanan bar. Aku yang  saat itu duduk seorang diri di bar, merasa jarak kami begitu dekat. Aku… menjadi leluasa melihatnya.
Saat dia mulai bernyanyi, suara gadis ituuu… Kenapa hatiku seperti ini mendengar suaranya? Kuperhatikan gadis itu saat bernyanyi. Suaranya biasa saja, tapi kenapa... Yeah, memang suaranya bagus, tapi suaranya tidak seindah milik Celine Dion atau penyanyi yang lain. Suara Zhang Liyin lebih indah dari suaranya, menurutku… Tapi, kenapa seakan-akan mendengarnya bernyanyi seperti ada kenikmatan tersendiri. Aaaakkkhhh…. aku seakan terhipnotis dengan suaranya. Mataku seakan terkunci, hanya melihat pada dirinya. Tapi, pertemuan kami saat itu terlalu singkat. Setelah dia selesai bernyanyi, dia kembali ke mejanya bersama teman-temannya. Aaakkhhh… jika sudah seperti ini, aku tak berani memandangnya lagi. Bisa-bisa aku nanti di kira pemuda mesum, karena terus-terusan memandangnya. Hahahaha…

“Hahahaha… Jadi… Kau juga lelaki di bar saat itu? Aaaakkhhh… Bagaimana kau masih mengingat semua itu?” ucap Andrea. Kemuadian ia melanjutkan membaca e-mail itu.

Tapi, ternyata seakan Tuhan mendengar isi hatiku. Suatu hari, di saat aku berencana untuk menemui sahabat lamaku di Universitas tempatnya belajar, aku bertemu lagi dengannya. Yaa… saat itu, aku dan teman-temanku sedang bermain basket. Dan di saat sedang asik bermain basket, tiba-tiba saja tembakanku meleset dan berhasil memecahkan sebuah pot. Ooohhh… awalnya kukira nasibku hari itu sedang sial. Tapi ternyata sebaliknya.
Saat itu, aku ingin mengambil bola basketku dan bermaksud mempertanggung jawabkan perbuatanku. Saat itu, bolaku terlempar hingga ke lantai dua. Jadi aku harus ke sana untuk mengambilnya. Dan setelah aku tiba di sana, aku melihat seorang gadis memegang bolaku. Sepertinya dia juga sedang kebingungan mencari pemilik bola itu… Aku bilang padanya untuk mengambil bolaku kembali. Ternyata, gadis itu adalah gadis yang sama dengan yang kutemui saat di bar. Setelah itu aku kembali ke lapangan, dan kuberikan bolaku ke teman-temanku. Biarkan mereka melanjutkan bermain dulu tanpaku. Aku belum selesai dengan urusanku. Setelah itu aku kembali ke lantai dua, gadis itu masih di sana. Ooohh… syukurlah dia belum pergi. Aku bertanya padanya, apakah dia baik-baik saja. Mungkin saja, saat bolaku mengenai pot tadi, dia terkena atau malah terluka. Tapi syukur, dia bilang kalau dia baik-baik saja. Kemudian, dia mengingatkanku pada kejadian pot pecah. Ooohhh… yeyeye.. aku pasti membersihkannya. Aku pun berjongkok untuk membersihkan pecahan pot itu. Tapi, gadis itu ikut berjongkok dan membantuku membersihkan pecahan potnya. Aku bilang padanya untuk tidak usah membantuku. Tapi dia memaksa, oohhh… baiklah. Aku juga tidak menolak. ^^

“Hey.. bukan memaksa. Tapi aku kasian melihatmu dibegitukan temanmu. Aaaakhhh… kau terlalu besar kepala, Kris.” Andreane tertawa sendiri membaca cerita Kris.

Setelah pekerjaan membersihkan pecahan pot itu selesai, aku melihat tangan lentiknya kotor karena terkena tanah saat membersihkan tadi. Aku mengambil sapu tanganku dan kuberikan padanya. Tapi dia menolak, dia bilang kalau dia sudah mempunyai sapu tangan sendiri. Akhirnya dia mencari sapu tangannya di tasnya. Sepertinya sapu tangannya tidak di sana, karena dia juga mencari di sakunya. Uhhhm, sepertinya dia tidak membawa sapu tangannya. Aku ulurkan kembali sapu tanganku padanya. Akhirnya dia menerimanya. Dia meminta maaf padaku karena katanya, dia telah mengotori sapu tanganku. Ahhh… justru sebaliknya, aku seharusnya berterimakasih padanya, karena telah membantuku membersihkan pecahan pot tadi. Kemudian, aku bertanya padanya, siapakah namanya. Dan saat dia ingin menjawabnya, seorang temannya memanggilnya. Yahhh… meski bukan dia sendiri yang menjawab pertanyaanku, setidaknya, setelah temannya itu memanggil namanya, aku jadi tau siapakah namanya. Aaaarrrgghhh... Sayangnya, setelah temannya memanggilnya, dia buru-buru pergi. Dan kami belum sempat berbicara banyak. Tapi, setidaknya ada kemajuan.
Dan memang, Tuhan sepertinya berpihak padaku. Sejak pertemuan terakhir kita saat itu, aku bertemu lagi dengannya untuk yang ketiga kalinya. Saat itu, aku berencana makan malam bersama teman lamaku. Kami bertemu di restaurant XXX, saat itu dia datang bersama teman lamaku. Awalnya kukira dia adalah pacar temanku, tetapi aku salah, ternyata dia adalah adik temanku. Aaarrgghhh.. lagi-lagi aku beruntung. Setelah pertemuan kita yang ketiga itu, untuk pertemuan selanjutnya, aku tidak akan menyia-nyiakannya begitu saja. Yaaa… aku tidak akan menyia-nyiakannya begitu saja.
Aaaarrgghhhh… akhirnya selesai juga ceritaku ini. Maaf jika ceritaku tidak terlalu menarik. Karena ini adalah pertama kalinya aku menulis cerita, dan berbagi melalui Majalah. Aaakkhhh… aku juga lelah mengetiknya. Tapi semoga kalian tidak lelah membacanya.
Gomawo sudah mendengar ceritaku.
Sampai jumpa di ceritaku yang lain.. Wo aini.. ^^

“Aaaakkkhhh… Kris.. Harus bagaimana aku? Aku malu..” Andrea tersenyum dan tertawa sendiri karena membaca e-mail dari Kris. 
Dia juga bingung harus bagaimana. Dia benar-benar malu saat ini. Dia tak menyangka Kris juga suka bertemu dengannya. Diambilnya ponselnya, kemudian mengetik pesan pada Kris.

Kris, kau sudah tidur? Aaarrgghhh… kau tak perlu membalasnya jika sudah tidur. Ceritamu.. Aaakkhhh… aku tak tau harus berkata apa. Euuung, maaf telah membuatmu terpesona padaku. Wkwkwkwk.. ^^

“Yaaa.. kenapa aku mengirim pesan seperti itu padanya. Aahhh.. pabo! Jika Kris mengira kau besar kepala bagaimana? Iya jika Kris memang terpesona padamu. Jika tidak, matilah kau Andreaaa….” Andrea mengutuk dirinya sendiri. Karena dengan PD-nya dia mengirim pesan seperti itu pada Kris.

Hahahaha… Aku belum tidur... :-) Bagaimana bisa kau se-PD itu Andrea? :o Wkwkwkwkwk ^^ Hhhmm.. tapi aku senang bisa bertemu dengan gadis sepertimu. Gomawo.. :-)

Ha? Gomawo? :o Untuk apa? O.O

Karena kau telah hadir di hidupku.. :-)

....... ^^ ..... :-)

-----------

Minggu, 27 Mei 2012

[Part 2] Cherry Blossom Love



Author : Jung Yerin (Moza D.A.)
Title : Cherry Blossom Love
Genre : Romantic, Friendship, Familyship

Main Cast :
-Seo Joo Hyun as Andreane Park
-Wu Yi Fan as Wu Yi Fan (Kris)
-Choi Minho as Choi Minho

Other Cast: Find by your self.
 
STORY
@Andreane’s School
                “Ya, Andrea. Bagaimana acara semalam?” tanya Sica.
                “Wahhh, memang tadi malam eonni ada acara apa?” tanya Krystal, adik Sica.
                “Uuhhhm, biasa saja.” Jawab Andreane tak bersemangat, mengingat peristiwa semalam.
                “Euuung, apa terjadi sesuatu yang buruk padamu?” tanya Sica yang menyadari ekspresi yang tergambar jelas di wajah Andreane.
                “Uhm, anak dari keluarga Choi.” Jawab Andreane sedikit menggantung.
                “Ada apa dengan anak keluarga Choi?” tanya Sica.
                “Ternyata mereka Siwon oppa dan Minho oppa.” Jawab Andreane.
                “Mwooo????” teriak Sica dan Krystal bersama.
                “Eonni. Benarkah tadi malam kau bertemu Minho oppa?” tanya Krystal sedikit bersemangat.
                “Hhhmm. Ne.. Matseumnida.”
                “Aaaarrgghhh… Sudah lama aku tidak melihat dia. Eonni, bagaimana dia sekarang? Aaakkhhh,, pasti dia sekarang tambah tampan.” Kata Krystal.
                “Yaaa!!! Kau itu! Begitu mendengar Minho, kau langsung bersemangat.” Kata Sica.
                “Hehehehe.. Eung, eotteyo eonni?”
                “Ahhh… Dia masih seperti dulu. Tapi rambutnya lebih panjang dari dulu. Badannya sedikit lebih gemuk dari dulu. Kulitnya sedikit lebih hitam dari dulu. Daaan, dia sedikit lebih banyak bicara dari dulu.” Jawab Andreane.
                “Sedikit lebih banyak bicara?? Hahahaha… Memangnya sekarang dia bagaimana?” tanya Sica.
                “Aaakhhhh, Andreane. Jeongmal bogoshippoyo…” Andreane ingat saat Minho mengucapkan seperti itu padanya. Ia juga teringat saat Minho bercerita, bercanda, dan tertawa lepas saat acara makan malam. Tidak seperti Minho yang dulu ia kenal. Bicara seperlunya dan tersenyum pada orang tertentu saja.
                “Andreane.. Eotteyo?”
                “Diaaa… diaaa… aaakkhh, pokoknya dia seperti itu. Aku tidak bisa menjelaskannya. Yang jelas dia berbeda dari yang kalian lihat terakhir kali.”
                ----------
                “Yaaaa…. Kalian, selamat yaaa… Kalian lolos ujian di Universitas SOPA.” Ucap Krystal pada Andreane, Jessica, Taeyeon, dan Yuri.
                “Hehehehe… Ne, gomawo Jungie..” kata Sica.
                “Eeeuuung, eonni. Kalau begitu, traktir aku makan.” Ucap Krystal
                “Yaaakkk, kau itu. Jika acara seperti ini kau selalu saja tidak pernah ketinggalan.” Ucap Sica.
                “Hahaha, uhm. Gwenchana Sica. Baiklah, hari ini kalian akan aku traktir.” Ucap Yuri.
                ----------
@Restaurant
                “Ayo, silahkan pesan makanan yang kalian ingin. Nanti biar aku yang membayarnya.”
                “Neeee…” ucap Andreane, Taeyeon, Jessica, dan Krystal kompak.
                “Aaaakkhhhh, kalian kompak sekali jika hal seperti ini.” Ucap Yuri.
                “Hahahahaha….” Mereka tertawa lepas bersama.
                “Uhm, aku ke kamar mandi dulu.” Ucap Andreane.
                “Pesananmu?” tanya Taeyeon.
                “Aku pesan sama sepertimu.” Jawab Andreane.
                “Yeee…”
                -----------
                “Malam ini aku persembahkan lagu ini untuk teman-temanku yang saat ini hadir, di meja nomor XX. My friends, Saranghae..” ucap Andreane yang sudah berada di panggung. Ya, restoran yang saat ini mereka datangi, memang memiliki panggung kecil yang terletak di samping bar.
                Taeyeon, Yuri, Jessica, dan Krystal yang merasa kenal dengan suara Andreane, langsung menoleh menghadap ke panggung. Mencari asal suara Andreane.
                “Noonbooshin gyejol gadeukhi hyangiro oon goril jina,
                 Jokshim seuron nae bal goreun doogeun goryo
     Jokshi mari nal hyanghae eutneun geudae moseub gaga wojimyun
     Sesang modeun haengboki da nae got gata
                Neujeun ohu haesaleh moon deuk jameso gae
geudae moreuge usojyo
Ajikdo mon mi raeye irige jiman geudae goomi anigi
Just one love oori doori goro ganeun giri
gagireul baraeyo
Good morning mae il achimen nalgae ooneun geudaeye jonhwa
Machi oori hamke matneun achim gata
Yonghwa chorom gon nejun yebeun satang boda
do ook dalgom han geudae jyo
Anheun shiganeul dara byonhagetgi man doo son noji an gireul
Just for love yongwontorok majimakil sarang
geudaegil baraeyo
Numoona sojong hangolryo
geudaeye sarangee
Oh it’s true ojik saroman bomyo geudae gyute itgo shipo
Man heun shigan soge byon han getjiman dooson noji an gireul
Just for love yongwon torok ajimanil sarang
geudae gil barae yo
To make my life complete
You make my life complete
                Seluruh tamu yang hadir bertepuk tangan, setelah Andreane menyelesaikan bait terakhir lagu yang dinyanyikannya. Andreane pun membungkuk pada para tamu dan kembali ke mejanya, bersama teman-temannya.
                “Yaaa… Andreane! Kau mengejutkanku. Kenapa tiba-tiba kau… Aaaakhhhh….” Ucap Jessica.
                “Neee.. Kenapa tiba-tiba menyanyikan lagu untuk kami? Memangnya ada acara apa? Hanya karena aku mentraktirmu, kau menjadi seperti ini. Aaaahhh, aku jadi takut denganmu Andrea.” Ucap Yuri.
                “Neee… Kau tiba-tiba seperti ini. Mengejutkan kami saja kau ini.” Ucap Taeyeon.
                “Aku juga baru kali ini melihatmu bernyanyi di depan umum eonni.” Ucap Krystal.
                “Hehehehehehe… Aku tidak tahu. Tiba-tiba saja aku ingin menyanyikan lagu itu untuk kalian. Dan malam ini moment yang tepat untuk melakukannya. Waeyo? Apa aku salah?”
                “Uhm.. aniyooo… Gomapta Andrea, untuk lagunya.” Ucap Taeyon.
                Andreane hanya tersenyum menanggapi kata Taeyeon. Andreane melihat ke arah bar, di sana ada seorang lelaki bertubuh tinggi, dengan rambut pirangnya. Lelaki itu… Andreane merasa, lelaki itu terus menatapnya ketika dia bernyanyi tadi. Mungkin lelaki itu terpesona dengan suaranya. ‘Maaf telah membuatmu terpesona padaku,’ ucapnya dalam hati pada lelaki itu.
                “Yaaa… Andreane, cepat makan milikmu. Pesananmu keburu dingin.” Ucap Yuri.’
                “Ooohhh, yeee…”
                ----------
                Setelah berhari-hari Andreane disibukkan dengan urusannya yang begitu banyak, akhirnya besok dia bisa masuk ke Universitas yang diinginkannya. Besok adalah hari pertamanya masuk kuliah. Dia tak sabar menanti hari esok.
                Tok.. tok.. tok..
                “Uhm, masuk. Pintu tidak dikunci.”
                “Andrea.. Kau belum tidur?”
                “Oh, oppaaa!!! Belum. Aku tidak bisa tidur oppa. Ada apa oppa?” Chanyeol mendekati Andreane, dan duduk di meja rias.
                “Uuuhhhm, aniyo. Eeeuung, Andrea. Apa kau masih menyukai Minho?” Andrea sedikit terkejut saat Chanyeol menyebut nama Minho.
                “Ahhh.. Sebenarnya, aku juga tidak tau oppa. Malam itu, Minho oppa sedikit berbeda. Dia sedikit berubah dari dulu saat terakhir aku bertemu dengannya. Aku seperti tidak mengenalinya. Tapi, saat aku melihatnya tersenyum padaku, dan mengatakan bahwa dia merindukanku, aku percaya bahwa yang di hadapanku memang dia, oppa. Diaaa… Memang Minho yang dulu pernah aku kenal.” Andreane menceritakan semuanya sambil memandang langit-langit rumahnya.
                ----------
@SOPA University
                Andreane berjalan menyusuri setiap koridor di lantai itu. Pandangannya selalu tertuju ke bawah. Banyak sekali pohon sakura di sana. Sayang, saat ini adalah musim gugur. Andreane tidak bisa melihat sakura-sakura yang berjatuhan dari pohonnya saat ini.
                Praaaaaang…. Pyaaarrrrrrrr……
                Andreane terkejut saat mendengar suara kaca pecah.
                Dik.. dik.. dik.. dik..
                Sebuah bola basket menggelinding ke arahnya. Diambilnya bola itu dan kepalanya berputar mencari pemilik bola itu.
                “Uhm, mianhae. Boleh kuambil kembali bolanya.” Ucap seorang pemuda pada Andreane.
                “Oh.. yogi..” Andrea memberikan bola basket itu pada pemuda itu.
                “Gamsahamnida.” Ucap pemuda itu saat bolanya sudah kembali padanya. Pemuda itu berlari meninggalkan Andrea, menuju ke lapangan basket. ‘Lalu, bagaimana dengan pot bunga yang baru saja ia pecahkan? Aiissshh, sangat tidak bertanggung jawab,’ batin Andrea. Eeeung, tapi pemuda itu memberikan bola basketnya kepada teman-temannya dan kembali lagi mendekati Andrea.
                “Uhm, mian. Telah membuatmu terkejut. Uhm, apakah kau terluka agasshi?”
                “Uhm, aniyo.. Hanya saja..” Andrea melirik pot bunga yang barusan pemuda itu pecahkan.
                “Aaaakkhhh, ne… permisi. Menjauhlah sebentar. Akan kubersihkan dulu.” Andrea pun menuruti kata pemuda itu. Dia menepi, dan melihat pemuda itu melakukan pekerjaannya. Ahhhh, kasian juga jika melihat pemuda itu membersihkan pecahan pot berserakan itu sendirian. Setega itukah dirinya? Andrea pun ikut berjongkok dan membantu pemuda itu membersihkannya.
                “Aaarrrgghhhh, agasshi… Tidak perlu.. Ini salahku… Eung, biar aku saja yang melakukannya.” Ucap pemuda itu pada Andrea.
                “Uhm, gwenchana.. Biar aku membantumu.” Akhirnya mereka kembali membersihkan pecahan-pecahan pot yang berserakan tadi.
                ----------
                “Uhm, agasshi. Gamsahamnida.. Berkat kau, membersihkannya jadi lebih cepat.” Ucap pemuda itu pada Andreane.
                “Uhm.. Ne.. Gwenchana..” ucap Andreane.
                “Ah, tanganmu kotor. Uhm, yogi. Bersihkan tanganmu dengan ini.” Pemuda itu memberikan sapu tangan miliknya pada Andreane.
                “Uhm.. Tidak usah, aku sudah punya.” Andrea pun mencari sapu tangan miliknya di tasnya. Tapi sapu tangannya tak ada. Dicarinya pula di sakunya. Hasilnya sama saja, tetap tak ada.
                “Uhhhmm, yogi.. Sepertinya kau butuh.” Ucap pemuda itu.
                “Aaahhhh… Mianhae. Sapu tanganmu jadi kotor. Mungkin milikku tertinggal di tempat lain.”
                “Aniyooo… Seharusnya aku yang minta maaf. Karena aku, tanganmu jadi kotor. Uhm, sekali lagi gamsahamnida.”
                “Yeee… Ceonmaneyo..”
                “Euung, bolehkah aku tau siapa namamu?”
                “Oh, namaku….”
                “Andreaaaaaa!!!” panggil seseorang.
                “Aaaahhhh, mian. Aku harus segera pergi. Annyeong..” Andrea tersenyum pada pemuda itu dan meninggalkannya, berlari menuju orang yang telah memanggilnya.
                “Andrea.. Jadi itu namamu.” Pemuda itu tersenyum sambil melihat punggung Andrea yang menjauh.
                ----------
                “Yaaaa!!! Kau kemana saja. Aku bingung mencari kelasku.” Ucap Andrea pada Taeyeon.
                “Aaahhhh, mianhae.. Aku traktir kau es krim sebagai permintaan maaf..”
                “Ohhh, itu memang perlu..” Andreane tertawa setelah mengatakan itu.
                “Kau itu.. Lalu, siapa pemuda yang tadi berbicara padamu Andrea?”
                “Dia tadi memecahkan pot, dan aku membantunya membersihkannya. Daaannn… Aigooo!!! Sapu tangannya! Aku lupa mengembalikannya. Eotteyo, Taeyeon-ah?”
                “Aaahhh, kembalikan saja setelah kau mencucinya. Kau itu tidak tau terima kasih. Dia meminjamkannya padamu untuk membersihkan tanganmu.”
                “Neee… Aku juga tau. Aku juga bermaksud seperti itu. Tapiii… aku tidak kenal dengannya. Kami juga baru saja bertemu.”
                “Mwooo? Bagaimana bisa. Kau juga tidak tau namanya?” Andreane hanya menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Taeyeon.
                “Aaaiiisssshhh, kau itu… Eeeuung, mungkin kau bisa menemuinya besok, jika dia bermain basket di lapangan tadi. Yaaahhhh, itu jika dia ke sana lagi.”  Ucap Taeyeon.
                ----------
@Park Family’s House
                “Andreane… Kau mau ikut oppa malam ini?” ucap Chanyeol pada Andreane. Saat ini mereka sedang menonton TV di ruang keluarga.
                “Eeeung, mau kemana oppa?” jawab Andreane sambil mengecat kukunya.
                “Ke restoran XXX. Kau ikut tidak?”
                “Mau mengapa oppa ke sana? Mau bertemu Taeyeon? Bukankah itu restoran hotel XXX. Hotel itu kan milik appa Taeyeon.”
                “Aaaiissssh, kau itu tentu saja bukan. Hanya ingin pergi bersamamu saja. Sudah lama oppa tidak makan di luar bersamamu.”
                “Ooohhh.. Yeee… Aku mau..”
                ----------
@Restoran XXX
“Kajja.. Cepat pesan makananmu.” Ucap Chanyeol.
                “Uhm, neee.. Aku pesan Samgyeopsol. Minumnya Espresso..” ucap Andrea pada pelayan.
                “Jadi, samgyeopsol-nya 2. Dan aku minumnya Sampagne.” Ucap Chanyeol pada pelayan dan mengembalikan menu pada pelayan.
                “Baiklah.. Silahkan anda tunggu sebentar..” ucap pelayan itu dan kembali menuju ke dapur.
                ----------
                “Aaaaarrrggghhhh… Oppa. Gomawo.. Samgyeopsol-nya ‘masssittthhaaaaa’…” ucap Andrea pada Chanyeol.
                “Hhhhmm… kalau begitu habiskan makananmu.” Ucap Chanyeol.
               Listen
   Neukkil su inni
   Nae simjangi
   Ttwijireul anha
   My heart be breakin’
                Ada panggilan masuk di ponsel Chanyeol.
                “Yeoboseyo?? Ohhh.. Kriiisss ………. Aku? Eung, aniyo.. Oh, aku di restaurant XXX. Yee.. Kemarilah… Hhhhmmmm… Annyeong,” klap. Chanyeol menutup ponselnya.
                “Oppa!!! Kau tidak bilang padaku akan mengajak orang lain. Aaaiisssh, oppaaaa…” Andrea merengek layaknya anak kecil.
                “Dia hanya teman lama Andrea. Jaga sikapmu. Jangan seperti anak kecil.”
                “Tapi ini makan malam kita berdua oppa. Kau sendiri yang mengajakku oppa.” Andrea mengerucutkan bibirnya dan menggembungkan pipinya.
                “Neee… oppa minta maaf. Dia teman lama oppa. Ayolahhh Andrea. Uhm…. Coba jika saat kau makan malam dengan oppa, kau mengajak salah satu temanmu, dan oppa tidak menyetujuinya. Apa kau mau seperti itu?” Andrea menggelengkan kepalanya.
                “Oppa tidak akan melakukan itu padaku. Apalagi jika yang kuajak itu Taeyeon. Aku yakin oppa tidak akan menyalahkanku telah mengajaknya.” Chanyeol sedikit terkejut ketika Andrea mengucapkan nama Taeyeon.
                “Euuuung. Jadi, bolehkan jika temanku bergabung?”
                “Uuuhm… tergantung. Jika teman oppa orangnya membosankan, lebih baik aku pulang saja. Nikmati makan malam kalian berdua.”
                “Aaaarggghhh… kalau masalah itu tak perlu kau khawatirkan. Dia bukan orang yang seperti itu.”
                ----------
                Seorang lelaki  bertubuh tinggi, memasuki restaurant XXX tempat Andrea dan Chanyeol sekarang berada. Dia memutar kepalanya mencari keberadaan Chanyeol yang telah mengajaknya makan malam.
                “Yaaaa!!! Kriiissss!!! I’m here..” teriak Chanyeol pada lelaki itu yang ternyata bernama Kris.
                “Ooohhh.. Chanyeol…” Kris berjalan mendekati Chanyeol. Tapi, siapakah gadis yang berada di dekat Chanyeol. Gadis itu menopang dagu, dan agak membelakanginya. Apakah dia pacar Chanyeol? Batin Kris.
                “Kris.. Kapan kau datang?” tanya Chanyeol. Mereka berjabat tangan dan berpelukan.
                “Aku baru datang tadi pagi.. Mian baru member tahumu.”
                “Ahhh… Gwenchanayo.. Yaaa… Kau sudah makan? Uhm, kami juga sedang makan.” Alis kanan Kris terangkat saat Chanyeol berkata ’kami’. Gadis itu pun ikut membungkuk padanya dan tersenyum padanya. Setelah itu, gadis itu kembali duduk dan meneruskan makannya tanpa mengenalkan siapa dirinya. Kris teringat dengan gadis itu… Gadis ituuu… apa dia pacar Chanyeol?
                “Aaakkhhh… Ini adikku. Kenalkan namanya Andreane. Andrea, kenalkan ini temanku, Kris.” Oohhhh… ternyata dia adik Chanyeol. Kris beruntung kali ini… Andrea berdiri dan mengenalkan dirinya.
                “Park Andreane imnida. Manaseo bangaup seumnida..” Andrea menoleh melihat lelaki itu. Ya.. Andrea seperti pernah melihat lelaki itu. Euuung, siapakah lelaki itu? Uuuuhm, ya.. Chanyeol bilang dia teman lamanya. Mungkin dia memang pernah melihat lelaki itu sebelumnya.
                Andrea melihat lelaki itu dengan seksama. 7,5 point yang Andrea berikan pada lelaki itu kali ini. Uhm, dia bertubuh tinggi. Dia membiarkan rambut pirangnya begitu saja, tidak merapikannya, atau mengolesi gel pada rambutnya. Sepertinya dia juga bukan tipe lelaki yang suka berdandan dan apa adanya. Andrea tidak melihat ada make up yang melekat pada wajahnya. Bau minyak wanginya juga tidak terlalu menyengat. Biasa saja… Yaaahhhh, Andrea tidak suka dengan lelaki yang giat berdandan dan memakai minyak wangi berbau menyengat.
                “Joneun Kris imnida. Manaseo bangaup seumnida..” Kris tersenyum pada Andrea. Andrea melihat senyum Kris, dan membuatnya ingin tersenyum juga padanya. Aaaakkhhh, senyum pria ini menular. Uhm, sekarang 8 point untuk lelaki ini. Batinnya.
                “Uhm, silahkan duduk Kris. Eung, kau sudah makan? Kami juga baru makan.” Tawar Chanyeol.
                “Aaaahhh.. ne.. kebetulan sekali Chan.. aku juga belum makan.” Ucap Kris.
                “Yeee… Pelayan..” Chanyeol memanggil pelayan untuk mencatat pesanan Kris, setelah itu pelayan kembali ke dapur untuk menyiapkan pesanan Kris.
                “Uhm, bagaimana kabarmu sekarang Kris? Bagaimana kabar keluargamu di China?” tanya Chanyeol memulai perbincangan. China? Oooohh… Jadi dia orang China. Pantas, aksen bicaranya sedikit berbeda.
                “Uhm.. Baik-baik saja. Di China mereka juga baik-baik saja.” Kris melirik Andrea. Dan ternyata gadis itu juga sedang melihatnya. Mereka jadi salah tingkah akhirnya. Chanyeol yang melihat tingkah mereka hanya mampu menahan tawa. Andrea mengutuk dirinya sendiri karena terus memperhatikan Kris. Tapiii… terus memandangi Kris seperti ada kenikmatan sendiri. Uhm, memandanginya benar-benar seperti ekstasi. Membuatnya ketagihan dan menginginkannya terus. Baiklah… 8,5 point untuknya sekarang.
                “Eeeung. Andreane… Kau lupa denganku?” tanya Kris pada Andrea. Dan Andrea pun terkejut Kris bertanya seperti itu padanya.
                “Aaahhh, apa kalian pernah bertemu sebelumnya?” tanya Chanyeol.
                “Uhm, kami pernah bertemu sebentar. Tapi kami belum terlalu mengenal. Baru kali ini-lah kami berkenalan.” Ucap Kris. Sudah pernah bertemu sebentar? Kapan? Kenapa Andrea tidak ingat. Andrea juga merasa tak asing dengan wajah Kris. Tapi, kapan ia pernah bertemu dengannya?
                “Eeeuung, jwosonghamnida. Aku benar-benar tak ingat kalau kita pernah bertemu.” Ucap Andrea.
                “Aaaaahhhh, begitukah. Yaaaa… mungkin karena saat itu kau belum tau namaku, jadinya kau lupa padaku. Uhm, sungguh beruntung bisa bertemu denganmu lagi Andreane.” Ucap Kris pada Andrea.
                “Mianhae. Andrea memang sedikit pikun. Kebiasaannya memang begitu.” Ucap Chanyeol pada Kris.
                “Yaaaa… oppa…” teriak Andreane pada Chanyeol. Chanyeol dan Kris pun tertawa. Oohhhh… tawa lelaki ini. Dia mampu tertawa lepas, namun kenapa dia terlihat sangat manis. 9 point untuk Kris. Andrea menyukai tipe ini, terlihat manis saat tertawa lepas.
            Listen
Neukkil su inni
Nae simjangi
Ttwijireul anha
My heart be breakin’
                Ponsel Chanyeol berbunyi. Chanyeol mengambil ponsel disakunya. Tapi dia malah terlihat bingung, dan melirik ke arah Kris. Ooohh, ponsel milik Kris ternyata yang berbunyi. Andreane juga sempat bingung. Tapi kemudian dia tau, bahwa ringtone ponsel milik Kris sama dengan ringtone ponsel milik kakaknya.
                “Hallo? Uuuuhm… yes… Kris here. Ooohhh… of course… Yes, sir… Night..” klap. Kris menutup ponselnya. Kris melihat Chanyeol yang sedang menatapnya tajam.
                “Kau memang masih sama Kris.”
                “Nee… kau juga.”
               “Hahahahahahaha….” Kris dan Chanyeol tertawa bersama. Andrea bingung dengan sikap mereka. Aaaaakkkhhhhh…. Tawa itu lagi. Dia benar-benar manis. Mata sipitnya bahkan menghilang saat tertawa.
                Point untuk Kris terus meningkat seiring dengan keunikan-keunikan yang dimilikinya. Andreane benar-benar bisa menerima pria itu sekarang.
                “Uuhm. Oppaa…. Waeyo?”
                “Aaaahhh… Andrea… Kau tau, ringtone ponsel yang oppa gunakan?” tanya Chanyeol. Andrea pun mengangguk.
                “Ringtone yang tidak pernah oppa ganti selama 4 tahun. Aaahhhh… mungkin lebih dari 4 tahun.” Jawab Andrea.
                “Neee… Ini adalah ringtone yang dulu kami gunakan Andrea. Oppa dan teman-teman oppa, Minho, Siwon, Kris, dan juga Tao. Kau mungkin belum kenal dengan Tao, tapi, kau juga tau khan kalau Minho dan Siwon juga menggunakan ringtone ini?” Oooohhh yaaaa…. Itu memang benar. Minho dan Siwon juga mempunyai ringtone ponsel yang sama dengan Chanyeol. Aaakkkhhhh…. Ternyata mereka BFF sudah lama. Tapi, siapa Tao? Kenapa Andrea belum mengenalnya? Kris saja baru ia kenal. Hhhhmm.. Andrea baru menyadari kalau masih banyak mengenai oppa-nya yang belum ia ketahui. Bahkan Kris dan Tao yang merupakan BFF oppa-nya saja tidak diketahuinya.
                “Oooohhh…. Tak kusangka kau masih menggunakannya Kris.” Ucap Chanyeol.
                “Neee… Aku juga tak menyangka kau masih menggunakan ringtone itu.” kata Kris.
                ----------

Sebenarnya, siapakah Kris sebenarnya?
Bagaimana kisah selanjutnya?
To Be Continue ...